Big Data: Anies dan Nasdem Dominasi Perbincangan Sepanjang 2022

Anies Baswedan (tengah) melakukan swafoto dengan pendukungnya setelah dirinya resmi menyelesaikan tugasnya selama 5 tahun dari 2017 hingga 2022 sebagai gubernur DKI Jakarta pada 16 Oktober tahun ini. (VOA/Indra Yoga)
Anies Baswedan (tengah) melakukan swafoto dengan pendukungnya setelah dirinya resmi menyelesaikan tugasnya selama 5 tahun dari 2017 hingga 2022 sebagai gubernur DKI Jakarta pada 16 Oktober tahun ini. (VOA/Indra Yoga)

Keterbatasan Big Data

Sebagai sebuah sumber data, big data memang bisa menjadi bahan analisa, tetapi keterbatasannya juga perlu dipahami. Berbicara dalam kesempatan yang sama, dosen Fisipol UGM, Dr Media Wahyudi Askar mengingatkan soal keterbatasan ini. Media Wahyudi adalah juga project advisor di UniTrend, sebuah situs informasi politik berbasis data.

Bacaan Lainnya

“Ketika kita menggunakan big data, media sosial, tentu ada limitasi. Misalnya, kita tidak bisa meng-capture mbah-mbah yang ada di kampung, karena mereka tidak akses media sosial, atau hanya sekedar menikmati obrolan di warung kopi saja,” kata Media.

Penggunaan big data dalam politik mulai populer setelah pemilu di Amerika Serikat menempatkan data ini sebagai instrumen penting. Big data dipandang sebagai alat untuk memahami popularitas.

“Tapi, ada pertanyaan juga, sejauh mana elektabilitas bisa di-capture dengan big data, dan ini juga tidak mudah,” tambah Media.

Karena hanya mampu memotret pada sisi yang terbatas inilah, analis berperan penting untuk membaca big data. Indonesia, kata Media, masih membutuhkan lebih banyak analis yang kompeten untuk pembacaan big data.

Yang juga perlu diperhatikan menjelang 2024, adalah bagaimana pertarungan akan terjadi justru di format paling akrab bagi masyarakat, yaitu di grup percakapan. Mereka yang tidak menggunakan media sosial seperti twitter, seperti masyarakat pedesaan, cenderung berada di grup-grup aplikasi percakapan seperti itu. Apa yang menjadi perbincangan di aplikasi tersebut juga perlu memperoleh perhatian.

Dalam kasus di Indonesia, juga ada istilah golden moment dalam penyelenggaraan pencoblosan. Faktor ini sangat sulit diprediksi, tetapi harus tetap diperhatikan.

“Beberapa jam sebelum nyoblos, kalau di kampung-kampung itu jam 5 pagi, tiba-tiba ada pot bunga dateng, ada bawang putih, bawang merah, satu kantong satu rumah. Itu enggak bisa di-capture dalam waktu cepat. Golden moment ini perlu diidentifikasi juga, bagaimana big data bisa meng-capture,”ujar Media. [voa/ns]

Jaringan: VOA

Total Views: 639

Pos terkait