Popularitas dan Elektabilitas
Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Mada Sukmajati mengingatkan bahwa popularitas tidak serta merta sejalan dengan elektabilitas.
“Popularitas itu tidak selamanya in line atau sama dengan elektabilitas. Jadi ini perlu kita membaca dengan hati-hati ya, karena boleh jadi populer, tapi belum tentu elektabilitasnya sesuai dengan popularitasnya itu,” kata Mada mengomentari hasil temuan Netray.
Namun, mengutip lembaga lain yang juga melakukan analisa terhadap big data, Mada mengakui bahwa Anies Baswedan selalu muncul dalam tiga nama paling dibicarakan. Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto adalah dua nama lain yang seringkali hadir dalam sejumlah survei bakal calon presiden 2024.
Mada menguatkan pendapatnya terkait elektabilitas ini, dengan mengutip hasil survei sejumlah lembaga yang menempatkan Ganjar Pranowo dengan elektabilitas tertinggi. Dalam kasus ini, baik Ganjar maupun Prabowo memang tidak sepopuler Anies Baswedan dalam perbincangan di kalangan warganet. Namun, elektabilitas Ganjar dinilai masih lebih tinggi dibandingkan dengan figur lainnya.
Di kelompok partai, banyak survei juga menempatkan PDI-P sebagai partai yang kemungkinan akan memperoleh dukungan terbesar di 2024. Posisi itu relatif stabil setidaknya dalam dua pemilu terakhir. Namun, Mada mengakui, bahwa lembaga survei juga mencatat pengaruh Anies bagi Nasdem cukup kuat.
“Ada hasil survei teman-teman di Algoritma, yang menunjukkan bahwa deklarasi yang dilakukan Partai Nasdem, telah memberikan dampak positif juga terhadap elektabilitas Partai Nasdem,” ujarnya.
“Jadi, pemberian tiket pencalonan ke Anies Baswedan dari hasil survei itu, bisa atau mampu, untuk meningkatkan elektabilitas atau perolehan suara dari Partai Nasdem. Ini, saya kira menjadi temuan menarik ya,” tambah Mada.
Meski memiliki tingkat dukungan paling tinggi, kata Mada PDI-P juga dihadapkan pada tingkat resistensi besar, kaitannya dengan wacana menjadikan Puan Maharani sebagai capres di 2024.





