Gelombang Panas Terjang Asia: Sekolah Diliburkan, Kasus DBD di Indonesia Melonjak

Para pejalan kaki menggunakan payung untuk melindungi dari panas sinar matahari di mal Siam Paragon, Bangkok, 1 April 2024. (Foto: Lilian Suwanrumpha/AFP)
Para pejalan kaki menggunakan payung untuk melindungi dari panas sinar matahari di mal Siam Paragon, Bangkok, 1 April 2024. (Foto: Lilian Suwanrumpha/AFP)

Kasus DBD di Indonesia Melonjak

Sementara itu, suhu yang lebih hangat di Indonesia memicu lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Jumlah kasus DBD di Indonesia meningkat dua kali lipat, dari 15.000 kasus pada tahun sebelumnya menjadi 35.000 kasus, menurut Kementerian Kesehatan RI.

Bacaan Lainnya

Siti Nadia Tarmizi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, kepada kantor berita Antara bahwa pola cuaca yang dipengaruhi fenomena El Nino membuat musim kemarau semakin panjang dan suhu semakin panas, sehingga mempercepat siklus hidup nyamuk pembawa demam berdarah.

Laporan media pada Senin (29/4/2024) menyebut sedikitnya dua orang tewas di negara bagian Kerala, India selatan, diduga karena sengatan suhu panas.

Surat kabar The Hindu melaporkan, seorang perempuan usia 90 tahun dan pria usia 53 tahun meninggal di Kerala pada Minggu (28/4/2024), ketika suhu udara mencapai 41,9 derajat Celcius, hampir 5,5 derajat Celcius di atas suhu normal.

Baca juga jurnal berita dunia berikut: Gelombang Panas Ancam Sektor Pertanian di Vietnam

“Hingga saat ini, kami telah menerima laporan-laporan insiden terkait suhu panas, yang kira-kira menimpa 450 orang. Ada laporan-laporan dari media terkait beberapa korban jiwa, tetapi belum dilaporkan secara resmi kepada kami. Harus ada pemeriksaan dan pengesahan oleh departemen kesehatan bahwa, iya, kasus ini dikonfirmasi sebagai kematian terkait suhu panas,” kata pejabat penanggulangan bencana negara bagian Kerala, Shekhar Kuriakose.

Sama halnya dengan Filipina, pihak otoritas Bangladesh juga kembali menutup semua sekolah dasar di seluruh negara itu dan institusi pendidikan di hampir separuh distriknya, termasuk di Dhaka, ibu kota Bangladesh, karena gelombang panas yang membuat suhu naik di atas 43°C pada Senin (29/4).

Namun, bagi mereka yang bekerja di luar ruangan, seperti pengemudi becak Shaheb Ali di Dhaka, tidak ada banyak waktu untuk rehat.

“Meskipun panas menyengat, kami, para penarik becak yang miskin ini, harus tetap bekerja di jalan. Kami juga perlu istirahat yang cukup. Jika tidak, ini akan sangat melelahkan. Jika tidak, bagaimana kami bisa menghidupi keluarga kami?” ujar Ali.

Para ilmuwan mengatakan bahwa jumlah kematian akibat gelombang panas di seluruh dunia telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya suhu bumi. Akan tetapi, tren gelombang panas di Asia tahun ini masih belum jelas sejauh ini, karena masih ada ketidakpastian soal cara mengidentifikasi kasus kematian yang tampaknya terkait dengan suhu panas. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: M Sarih

Total Views: 359

Pos terkait