Belanja Pemilu Diperkirakan Tidak Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi pada 2024

Seorang pemuda menggunakan ponselnya di depan mural kampanye Pemilu 2019, Banda Aceh, 17 Maret 2019. (Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN)
Seorang pemuda menggunakan ponselnya di depan mural kampanye Pemilu 2019, Banda Aceh, 17 Maret 2019. (Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN)

Shinta memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di tahun depan masih akan bergantung kepada sektor-sektor yang selama ini telah berkontribusi besar kepada produk domestik bruto (PDB) seperti pengolahan, manufaktur, pertanian, perdagangan, pertambangan dan konstruksi yang masing-masing menyumbang kurang lebih sepuluh persen.

“Jadi dengan kata lain kita tidak bisa mengandalkan pemilu,” imbuhnya.

Bacaan Lainnya

Menurutnya prediksi ini harus menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya kalangan pengusaha menghadapi kondisi yang tidak mudah pada tahun ini. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Apindo terhadap kurang lebih 2000 pengusaha, sekitar 72 persen mengalami pertumbuhan penjualan yang lambat, dan sekitar 42 persen mengalami stagnasi dalam bisnis mereka.

Mayoritas dari mereka, kata Shinta, juga menyatakan bahwa kondisi nilai tukar rupiah dan suku bunga yang berlaku saat ini tidak kompetitif dan cenderung menjadi beban ekspansi usaha.

“Meskipun terdapat indikasi pelemahan kuat terhadap konsumsi pada 2024, 58 persen pelaku usaha Indonesia tetap memiliki rencana melakukan ekspansi usaha. Jadi walaupun dengan kondisi ini tetap cukup optimistis untuk mau melakukan ekspansi usaha,” kata Shinta.

Dari survei ini juga diketahui bahwa pelaku usaha mengeluhkan tata kelola pemerintahan yang kerap tidak transparan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Lantas apa yang dibutuhkan kalangan pengusaha? Shinta menyebut mereka membutuhkan kepastian hukum; pemilu yang damai, adil dan jujur; serta persaingan politik yang sehat.

“Dunia usaha berharap, aktivitas demokrasi berlangsung dengan lancar dan memberikan dampak pelemahan yang minimal terhadap certainty dan confidence untuk berusaha dan berinvestasi di Indonesia,” pungkasnya. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Total Views: 687

Pos terkait