Anies dan Ganjar Naik Haji: Kompak Ibadah di Tengah Persaingan Pilpres

Para jemaah haji mengelilingi Ka'bah, bangunan kubik di Masjidil Haram, dalam pelaksanaan ibadah haji tahunan di Mekkah, Arab Saudi, Minggu, 25 Juni 2023. (AP/Amr Nabil)
Para jemaah haji mengelilingi Ka'bah, bangunan kubik di Masjidil Haram, dalam pelaksanaan ibadah haji tahunan di Mekkah, Arab Saudi, Minggu, 25 Juni 2023. (AP/Amr Nabil)

Bakal calon presiden Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo naik haji, kompak ibadah di tengah persaingan Pilpres 2024.

Foto Anies Baswedan bertemu Ganjar Pranowo di Tanah Suci juga ramai diperbincangkan publik. Haji adalah ibadah bagi seorang muslim, tetapi untuk politisi, apalagi menjelang pemilihan presiden, aktivitas ini membawa banyak makna.

Bacaan Lainnya

Di mata Acep Yoni, pendongeng asal Yogya, kepergian Anies dan Ganjar ke Tanah Suci dan foto-foto mereka yang tersebar di media tidak berpengaruh apapun tentang capres mana yang akan ia pilih.

Tapi ia meyakini, kontestan Pilpres ke Tanah Suci bisa menjadi “dongeng” tersendiri bagi politisi itu, khususnya dalam komunikasi mereka kepada pemilih.

“Bagi politisi, tentu politik identitas seperti ini penting, karena itu akan mencerminkan dia sebagai orang yang beragama Islam. Dia bisa menjadi barometer, dia sudah naik haji, sudah rajin salat, dia ngaji. Dia terkesan dekat dengan ulama. Bagi seorang politikus, itu penting,” paparnya kepada VOA.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Soeharso Monoarfa turut berfoto bersama Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Foto itu kemudian tersebar dan menjadi viral, terutama karena Anies dan Ganjar berada di dua kubu berbeda dalam kontestasi awal tahun depan. Setidaknya ada tiga nama dalam bursa calon presiden, yaitu Anies, Ganjar dan Prabowo Subiyanto.

Sebagai negara dengan mayoritas rakyatnya muslim, simbol-simbol keagamaan seperti ibadah haji, sangat penting bagi politisi. Karena itulah, prosesi ibadah di Tanah Suci itu menjadi bagian dari publikasi rutin calon presiden. Di samping itu, akan menyusul setelah ini kunjungan ke pesantren-pesantren, mengunjungi (sowan) kyai, hadir dalam pengajian dan sejenisnya.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Ahmad Norma Permata Ph.D melihat, kedekataan politisi dan ritual keagamaan, sebagai cara menunjukkan kesalehan.

“Masih sangat banyak orang yang menggunakan kesalehan personal itu sebagai jalan pintas untuk menunjukkan orang itu baik atau enggak. Artinya kalau orang itu secara agama baik, tentu dia bisa mengendalikan emosi dengan baik, mengendalikan nafsu dengan baik, punya perhatian pada publik secara baik,” ujarnya.

Upaya ini sejalan dengan apa yang terjadi di lingkungan pedesaan, di mana pemilih mayoritas tinggal, yang akrab dengan bahasa-bahasa religiusitas.

Senada dengan Ahmad Norma, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr Tunjung Sulaksono memastikan, mayoritas masyarakat Indonesia yang Muslim masih menjadi “pasar suara” yang sangat menentukan dalam pemenangan di Pilpres 2024.

“Sehingga menjalankan ibadah haji, ini juga bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan positioning. Kalau dalam istilah political marketing inikan sebuah cara untuk memposisikan diri di tengah-tengah masyarakat muslim,” ujarnya.

Total Views: 642

Pos terkait