Hartono membeberkan caranya sehingga usahanya bisa bertahan, salah satunya menjaga kualitas dan higienitas produk, seperti pemilihan bahan baku ikan tenggiri segar yang diambil dagingnya, tepung, telur, bumbu dan mulai dilakukan produksi pencampuran bahan baku tersebut.

“Diaduk sekitar setengah jam, baru digoreng dengan minyak goreng baru. Untuk packing atau mengemas produk berbeda waktunya,” ujarnya.
Hal itu dilakukan karena kerupuk yang telah digoreng perlu ditiriskan dan didinginkan selama satu malam, tujuannya agar kualitas kerupuk tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.
Sedangkan ukuran kemasan, kerupuk Atom HS menggunakan dua model, yakni kemasan produk bermotif batik untuk dipasarkan ke hotel maupun pelabuhan international dan kemasan plastik biasa.
Sebagai salah satu produk UMKM yang berkembang, Kerupuk Atom HS juga pernah mengikuti pameran produk UMKM di Semarang, Batam, Tanjungpinang sebagai perwakilan dari Kabupaten Karimun.
“Untuk mempromosikan kerupuk ikan asal Kabupaten Karimun,” tuturnya.
Namun, kini dampak Covid-19 sangat berpengaruh dengan produksi kerupuk ikan yang kini hanya mempekerjakan 2 karyawan saja.





