Sedangkan kemasannya kini hanya menggunakan kemasan transparan ukuran mulai 60 gram, 100 gram, 250 gram, hingga 500 gram khusus untuk hari keagamaan.

“Harga mulai dari Rp10 ribu hingga Rp35 ribu. Untuk mutu tetap kita jaga,” kata Hartono.
Agar tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19, Hartono terpaksa mengurangi produksi hingga 85 persen.
“Hanya untuk kebutuhan keluarga dan membayar karyawan dua orang. Sebab, pemesanan turun drastis, tidak ada pesanan dari luar tetapi hanya di Pulau Karimun saja,” tuturnya.
Kini, Hartono juga membuat inovasi baru agar usahanya tetap mendatangkan penghasilan, salah satunya dengan membuat produk baru, antara lain naget ayam, empek-empek yang izinnya sedang dalam pengurusan, termasuk juga izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
Selain itu, Hartono juga memproduksi kerupuk singkong namun masih dalam tahap uji coba.
“Mudah-mudahan produk baru ini bisa. Perizinannya sudah diurus, dan BPOM juga sudah turun,” kata Hartono. (rdi)





