Badai Industri Tekstil: Meski Produksi Surut, Sritex Menolak Disebut Bangkrut

Pada masa jayanya, perusahaan SRITEX di Sukoharjo telah melayani produksi seragam militer untuk 27 negara di dunia (foto: ilustrasi/VOA).
Pada masa jayanya, perusahaan SRITEX di Sukoharjo telah melayani produksi seragam militer untuk 27 negara di dunia (foto: ilustrasi/VOA).

Sejak 1994, Sritex pernah menjadi produsen seragam militer untuk organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan pasukan sejumlah negara. Perusahaan ini juga memiliki lebih dari 300 ribu desain kain, termasuk enam desain pakaian militer yang dipatenkan.

Kapasitas produksi Sritex tidak hanya terbatas pada seragam militer, tetapi juga mencakup perlengkapan militer untuk 33 negara di seluruh dunia. Sementara secara keseluruhan, Sritex pernah melayani lebih dari 100 negara di dunia.

Bacaan Lainnya

Perusahaan ini mengalihkan sebagian produksinya sebagai strategi bertahan di tengah pandemi pada 2020, dengan memproduksi dan mendistribusikan 45 juta masker kain ke mitra kerjanya di seluruh dunia. Namun, dampak pandemi nampaknya belum usai hingga saat ini, ketika industri tekstil Indonesia secara umum mengalami tekanan akibat berbagai perubahan.

Lilik Setiawan juga mengakui, bahwa Sritex pernah mendunia di masa jayanya.

“Sritex perusahaan bonafid. Kalau tidak, kan tidak masuk pasar bursa. Kita tahu, tidak semua perusahaan tekstil bisa masuk bursa saham. Kalau Sritex sudah masuk pasar bursa saham berarti sudah dapat pengakuan, baik dari pemerintah, organisasi, lembaga keuangan, dan sebagainya,” kata Lilik.

Sementara Iwan Lukminto berharap pemerintah bisa segera mengatasi keterpurukan industri tekstil dan produk tekstil saat ini. Dia yakin, jika ada respon cepat pemerintah mengatasi banjirnya produk impor, akan membantu industri padat karya ini untuk bangkit kembali.

“Kami harapkan regulasi pemerintah yang diambil untuk menyelamatkan industri tekstil ini segera bisa direalisasikan. Kami sudah menyuarakan ini dari dua tahun yang lalu, tapi juga baru direspons. Ya apa boleh buat, pabrik-pabrik yang sudah telanjur tutup itu apa bisa beroperasi lagi. Itu sayang sekali,” paparnya. [voa]

Jaringan: VOA

Total Views: 689

Pos terkait