Badai Industri Tekstil: Meski Produksi Surut, Sritex Menolak Disebut Bangkrut

Pada masa jayanya, perusahaan SRITEX di Sukoharjo telah melayani produksi seragam militer untuk 27 negara di dunia (foto: ilustrasi/VOA).
Pada masa jayanya, perusahaan SRITEX di Sukoharjo telah melayani produksi seragam militer untuk 27 negara di dunia (foto: ilustrasi/VOA).

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Jumat (28/6), PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) kembali membukukan rugi bersih jangka waktu tiga bulan pertama tahun ini akibat tekanan di industri tekstil.

SRITEX mencatat rugi bersih $14,8 juta, setara Rp235 miliar, pada kuartal I-2024 atau periode Januari-Maret. Kerugian itu lebih tinggi 61 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar $9,2 juta.

Bacaan Lainnya

Kerugian yang dialami awal tahun ini membuat akumulasi rugi perusahaan membengkak. Per 31 Maret 2024, saldo laba Sritex defisit $1,18 miliar atau hampir Rp2 triliun.

Masih menurut BEI, SRITEX per 31 Maret 2024 memiliki 11.249 karyawan, padahal pada akhir Desember 2023 mereka masih memiliki 14.138 karyawan. Artinya, dalam kurun waktu 3 bulan, ada lebih 3.000 pekerja di-PHK.

Namun, laporan BEI itu berbeda dengan pernyataan Iwan Lukminto, yang menegaskan bahwa kondisi perusahaannya berangsur membaik meski perlahan. Iwan juga mengungkap jumlah karyawan Sritex sekitar 30 ribu pekerja.

“Kami masih ekspor terus. Seragam militer 27 negara maupun NATO masih kami lakukan ekspor. Jumlah karyawan ada 30 ribu orang,” tegasnya.

Juru bicara Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah, Lilik Setiawan mengatakan sampai saat ini organisasi itu belum nenerima laporan kebangkrutan Sritex. Dia menegaskan, hingga saat ini aktifitas pekerja dan operasional perusahaan masih berjalan.

“Ya, yang tahu kondisi, kan pimpinan Sritex sendiri. Kami di BPD API Jawa tengah belum menerima info resmi Sritex akan menutup usaha atau bangkrut. Kami sering rapat, berpindah lokasi dari perusahaan A ke perusahaan B, nah pas rapat kemarin di Sritex, kami masih melihat aktifitas pekerja dan operasional mesin tekstil masih berjalan,” ujar Lilik.

Lebih lanjut, Lilik tidak mengetahui apakah langkah PHK ribuan pekerja menjadi strategi untuk bertahan bagi perusahaan tekstil ini.

Total Views: 688

Pos terkait