Jurus Terakhir Jelang Pemungutan Suara

Tiga pasang capres-cawapres mengikuti debat kelima atau debat terakhir di Jakarta, hari Minggu (4/2/2024). Courtesy : TPN Prabowo-Gibran
Tiga pasang capres-cawapres mengikuti debat kelima atau debat terakhir di Jakarta, hari Minggu (4/2/2024). Courtesy : TPN Prabowo-Gibran

Andika: Tampil Apa Adanya, Tak Perlu Akting Seakan-akan Muda

Andika Perkasa menilai upaya meraih suara anak muda, terutama pemilih pemula, tidak bisa dilakukan secara instan dan artifisial.

Bacaan Lainnya

“Jika Anda lihat ada pasangan capres lain berusaha untuk menampilkan dirinya yang diinginkan Gen-Z. Akting seakan-akan muda. Ganjar Pranowo tidak. Ia tidak pernah mengubah dirinya, atau melakukan sesuatu hanya untuk merebut simpati kalangan muda. Dia tidak pernah begitu. Menurut saya kalangan muda dapat melihat betapa bagusnya menjadi diri sendiri,” sebutnya.

“Ada survei di kalangan Gen Z beberapa bulan lalu, yang salah satunya adalah mereka mengutamakan nilai-nilai kejujuran, mereka tidak suka melihat kepura-puraan, korupsi. Jadi untuk menarik hati kalangan anak muda, bukan hanya dengan bertindak seperti anak muda, tetapi juga kejujuran. Sejak awal Ganjar menjadi dirinya sendiri dan semoga itu yang dilihat kalangan muda,” lanjutnya.

TPN AMIN Hindari Kebijakan Luar Negeri Transaksional

Secara khusus VOA mengklarifikasi beberapa isu yang disampaikan capres-cawapres masing-masing tim dalam debat terbuka sebelumnya. Untuk tim AMIN, pernyataan Anies Baswedan soal “tidak akan melanjutkan kebijakan luar negeri yang transaksional” menarik perhatian banyak kalangan.

Tom Lembong, selaku Co-Captain Timnas AMIN, mengatakan ia tahu persis orientasi yang sangat transaksional, yang disampaikan Anies karena pernah menjadi menteri perdagangan dan menteri investasi di kabinet itu. Semua hubungan luar negeri ditujukan hanya untuk dua yaitu investasi dan ekspor.

“Tidak ada semangat untuk hal-hal lain yang menjadi keprihatinan atau ancaman bersama, misalnya krisis iklim, virus atau kuman baru yang berpotensi memicu pandemik baru, bagaimana mengatasi penyakit kronis (diabetes, jantung, darah tinggi) atau obesitas yang paling cepat naik di negara berkembang. Untuk solusi seperti ini harusnya kolaborasi antar negara, tetapi seluruh orientasi hubungan luar negeri kita fokus pada investasi dan ekspor,” komentarnya.

“Pemerintah berulangkali bilang ‘kuncinya di investasi!’. Nah saya mau tanya, setelah selama sepuluh tahun obsesi pada investasi, kenapa pertumbuhan ekonomi kita tidak naik-naik, tetap di 4-5 persen. Seharusnya jika memang kita gencar dengan investasi maka pertumbuhan ekonomi kita sudah tujuh persen. Jika sebuah strategi tidak berhasil, masa’ diteruskan. Kita perlu evaluasi dan perubahan,” ujarnya.

Pos terkait