Indonesia Targetkan Investasi Hampir $32 Miliar dalam Rantai Pasokan Baterai

FILE - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat menghadiri pertemuan dengan Menteri Keuangan Janet Yellen, Jumat, 16 September 2022, di Departemen Keuangan di Washington. (AP/Jacquelyn Martin)
FILE - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat menghadiri pertemuan dengan Menteri Keuangan Janet Yellen, Jumat, 16 September 2022, di Departemen Keuangan di Washington. (AP/Jacquelyn Martin)

Indonesia dapat menerima investasi sekitar $31,9 miliar untuk proyek-proyek yang terkait dengan rantai pasokan baterai pada tahun 2026, kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan, Selasa (30/5/2023).

Luhut mengatakan itu dalam Konferensi Rantai Industri Nikel dan Kobalt Indonesia 2023 di Jakarta, yang diselenggarakan Shanghai Metals Market (SMM) dan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI). Konferensi dua hari ini mulai berlangsung Selasa.

Bacaan Lainnya

Luhut mengatakan, proyeksi investasi ini dimungkinkan karena pemerintah berupaya mendorong produksi bernilai tambah. Ia mengatakan, sebagai negara yang kaya nikel, yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik (EV), pemerintah ingin melihat lebih banyak investasi di sektor hilir nikel untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kalimantan dapat menerima $12,35 miliar, Maluku Utara dapat menarik $9,78 miliar dan Sulawesi dapat melihat arus masuk sebesar $9,84 miliar dalam investasi proyek rantai pasokan baterai itu, kata Luhut.

Untuk mendorong investasi dari investor yang sadar akan emisi, pemerintah Indonesia telah menggembar-gemborkan kawasan industri Kalimantan Utara di pulau Kalimantan sebagai kawasan “hijau”. Di kawasan itu, menurut rencana, segala aktivitas dijalankan dengan menggunakan energi yang diproduksi pembangkit listrik tenaga air. Sejauh ini, sejumlah perusahaan telah berkomitmen untuk memproduksi aluminium di kawasan industri itu.

Total Views: 481

Pos terkait