Luhut mengatakan pada konferensi itu, kawasan tersebut dapat menampung proyek yang dapat memproduksi baterai dengan total kapasitas 265 GWh (gigawatt jam), dan proyek-proyek terkait industri petrokimia, besi dan baja, alumina dan silikon.
Meskipun terkenal dengan pasokan dan penggunaan batu bara yang melimpah, Indonesia berusaha mengurangi emisi dan mempromosikan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang lebih ketat. “Jika Anda tidak mematuhi (ESG), saya akan menutup industri Anda,” kata Luhut kepada peserta konferensi.
Ia juga mengatakan Indonesia tidak akan mengizinkan pembuangan tailing laut dalam — metode kontroversial untuk melepaskan bahan limbah ke laut — untuk operasi pelindian asam bertekanan tinggi (HPAL), dan akan mendorong perusahaan-perusahaan untuk mengubah limbah menjadi bahan yang berguna.
HPAL adalah metode untuk membuat bahan antara nikel dan kobalt yang digunakan dalam pembuatan baterai EV. “Tolong jangan remehkan niat pemerintah Indonesia terhadap lingkungan,” kata Luhut. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






