Pakar: “Kabinet Gemuk” Prabowo Akan Perlambat Pencapaian Visi Misinya

Presiden terpilih Prabowo Subianto saat menghadiri Pidato Kenegaraan di Gedung DPR, menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia, di Jakarta, 16 Agustus 2024. (Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/Reuters)
Presiden terpilih Prabowo Subianto saat menghadiri Pidato Kenegaraan di Gedung DPR, menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia, di Jakarta, 16 Agustus 2024. (Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/Reuters)

Deputi Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia (TII) Wawan Suyatmiko menjelaskan penambahan sejumlah kementerian merupakan hal yang kontradiktif dengan tata kelola pemerintahan yang efektif. Menurutnya, makin sedikit atau ramping jumlah kementerian, maka pemerintahan makin efektif.

Wawan menilai secara politis, penambahan jumlah kementerian lagi-lagi menunjukkan bagi-bagi kue kekuasaan. Dia mengatakan konsolidasi demokrasi bukan dimaknai dengan bagi-bagi kekuasaan, tetapi bagaimana menjamin para oposisi bisa bersuara secara setara dan benar.

Bacaan Lainnya

“Menjadi oposisi pun dalam demokrasi itu penting. Justru kalau tidak ada oposisi, demokrasi itu nggak akan hidup. Oposisi yang ditekan, oposisi yang direpresif, oposisi yang dikriminalisasi itu malah yang nggak sehat,” katanya.

Wawan mengatakan konsekuensi dari penambahan jumlah kementerian akan memperbesar anggaran, baik untuk pembiayaan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Singkatnya, ia menegaskan jumlah kementerian yang meningkat akan sangat membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurutnya, membentuk kabinet gemuk akan membuka lebar peluang terjadinya korupsi dalam konteks kewenangan yang dimiliki kementerian bersangkutan. Dia mencontohkan jika sejumlah lembaga sama-sama memiliki kewenangan untuk mengeluarkan izin pertambangan, maka akan terjadi tumpang tindih dan silang sengketa.

Wakil ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman berpendapat lain. Ia menganggap penambahan kementerian sebagai hal wajar karena Indonesia merupakan negara yang besar sehingga butuh bantuan dari banyak pihak. [voa]

Jaringan: VOA

Total Views: 400

Pos terkait