Pengamat: Platform Kebijakan Jadi Penentu Kemenangan dalam Pilkada Jakarta

FILE - Seorang petugas pemilu membantu seorang perempuan lanjut usia untuk menandai jarinya dengan tinta setelah memberikan suaranya pada Pilkada di Tangerang, Banten, 27 Juni 2018. (Willy Kurniawan/REUTERS)
FILE - Seorang petugas pemilu membantu seorang perempuan lanjut usia untuk menandai jarinya dengan tinta setelah memberikan suaranya pada Pilkada di Tangerang, Banten, 27 Juni 2018. (Willy Kurniawan/REUTERS)

Dia memperkirakan Pramono -Rano juga memiliki kesempatan menang jika sosiliasi mereka berlangsung efektif. Sebab, katanya, basis pemilih PDIP dan kelompok nasionalis di Jakarta cukup besar. Dari sisi etnisitas, lanjutnya, etnis Jawa diwakili oleh Pramono dan Betawi direpresentasikan oleh Rano, yang jumlahnya sekitar 64 persen dari total penduduk Jakarta. Sementara itu, basis pemilih Sunda, yang diwakili oleh Emil, hanya 14-15 persen.

Karena itu dari aspek sosiologis, dia menilai pasangan Pramono-Rano memiliki ceruk pemilih yang cukup besar dibanding duet Ridwan Kamil-Suswono. Hal ini, menuritnya, bergantung pada efektifitas sosialisasi mereka di kalangan masyarakat Jakarta.

Bacaan Lainnya

“Aspek kedua yang juga harus diperhatikan adalah di Jakarta ini penduduknya relatif kritis, relatif terdidik. jadi mereka yang lulusan SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) itu jumlahnya sangat besar, sekitar 68 persen. Karena warganya kritis, artinya pilihan itu sangat bergantung pada hal-hal yang rasional sebetulnya. Misalnya rekam jejak dan platform kebijakan,” kata Saidiman.

Saidiman mencontohkan pada Pemilihan Gubernur Jakarta 2017, sebelum debat, calon gubernur Agus Harimurti Yudhoyono cenderung lebih kuat dibanding yang lain. Tapi, setelah masing-masing kandidat menyampaikan rencana kebijakannya dalam debat, elektabilitas berubah: Basuki Tjahja Purnama alias Ahok menempati peringkat pertama, disusul Anies dan Agus Harimurti.

Dia mengatakan debat kandidat gubernur untuk warga Jakarta itu penting karena mereka berpikiran kritis. Oleh sebab itu, debat menjadi peluang bagi Pramono yang belum kompetitif untuk muncul dan menawarkan program-program yang bisa diterima oleh publik secara objektif.

Pasangan calon independen Dharma Pongrekun-Kun Wardana, menurut Saidiman kurang kompetitif, sampai saat ini. Namun, sekali dia menegaskan karena masyarakat Jakarta kritis, seandainya duet ini bisa mengemukakan platform kebijakan yang bagus, mereka bisa menjadi kuda hitam. [voa]

Jaringan: VOA

Total Views: 446

Pos terkait