Utang Luar Negeri Indonesia Turun, Pakar: Belum Tentu Berarti Positif

FILE - Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi ULN Indonesia pada April 2024 tercatat USD398,3 miliar, atau lebih kecil dibandingkan pada bulan sebelumnya yang mencapai USD404,8 miliar. (REUTERS/Willy Kurniawan)

Ekonom: Penurunan ULN Bukan Selalu Sinyal Positif

Ekonom Indef Nailul Huda mengungkapkan penurunan ULN Indonesia tidak berarti bisa dimaknai positif. BI, kata Nailul mengatakan bahwa penurunan ULN pemerintah salah satunya disebabkan oleh investor asing yang menarik portofolionya dari Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan oleh pemerintah.

Bacaan Lainnya

Dengan begitu, katanya, bisa dikatakan bahwa investor asing, utamanya, tidak sepenuhnya percaya dengan pengelolaan utang yang dilakukan oleh pemerintah.

“Investor itu yang penting kan cuan (uang), ketika investor mencari keuntungan yang diinginkan mereka pasti mencari instrumen yang dia lebih cuan bagi mereka. Ketika suku bunga BI meningkat kemudian The Fed rate tidak turun, otomatis sebenarnya pasar SBN tidak menjadi menarik bagi para investor, terlebih ketika SBN (pemerintah Indonesia) oleh lembaga pemeringkat utang seperti Fitch Rating misalnya turun. Jadi bisa kita lihat investor dan juga lembaga pemeringkat utang itu dia menurunkan nilai dari kemampuan pemerintah dalam mengelola utangnya. Makanya si investor akan berpikir ulang untuk menempatkan uangnya di SBN,” ungkap Nailul.

Penurunan ULN swasta, ungkap Nailul, juga menjadi pertanyaan. Pasalnya, berbeda dengan pemerintah, sektor swasta ketika berhutang biasanya akan melakukan dua hal utama yakni ekspansi dan investasi. Ia menduga bahwa penurunan utang dari swasta disebabkan oleh keadaan bisnis yang saat ini tidak terlalu baik.

“Memang bisa dibilang kalau swasta mau ekspansi dia membutuhkan modal, ketika ada banyak investor luar yang ingin berinvestasi di sektor swasta di Indonesia itu pasti menunjukkan dunia usaha di dalam negeri baik. Jadi istilahnya swasta digenjot utang untuk bisa berekspansi,” jelasnya.

Senada dengan Nailul, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan, ketidakpastian global, terutama situasi geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda, mengakibatkan investor asing cenderung mencari aset yang aman dalam berinvestasi.

Total Views: 544

Pos terkait