Berbicara di sela-sela Belt and Road Forum di Beijing, Tiongkok, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk serangan terhadap rumah sakit di Gaza itu, dengan mengatakan ia “ngeri” melihat ratusan orang yang tewas dalam ledakan itu. Ia mendesak diberlakukannya gencatan senjata di kawasan itu.
Tidak hanya para pemimpin negara-negara di Timur Tengah dan badan dunia, Keuskupan Episkopal Yerusalem juga mengutuk ledakan di rumah sakit di Gaza yang menelan banyak korban jiwa tersebut.
Pihak keuskupan mengawasi dewan dan administrasi rumah sakit, yang secara eksklusif didanai melalui Gereja Anglikan dengan sumbangan internasional. Keuskupan Episkopal Yerusalem mengumumkan hari berkabung di semua gereja dan lembaga-lembaganya.
“Gaza tidak lagi menjadi tempat berlindung yang aman,” kata pihak keuskupan, dan menyebut ledakan itu sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Saling Menyalahkan
Sejumlah pejabat Palestina menyalahkan Israel sebagai pelaku serangan terhadap rumah sakit itu. Namun Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membantah terlibat dalam ledakan itu, dan sebaliknya menilai ledakan itu terjadi akibat “kegagalan peluncuran roket” dari pihak Jihad Islam, salah satu organisasi militan yang ikut membantu Hamas melancarkan serangan ke Israel mulai 7 Oktober lalu.
Serangan itu semakin menyulitkan posisi Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang sedang dalam perjalanan ke Israel untuk menegaskan dukungan kuat AS pada negara itu. Tak lama setelah serangan itu, para pemimpin Timur Tengah yang sedianya melangsungkan pertemuan dengan Biden, membatalkan pertemuan itu. Presiden Palestina Mahmoud Abbas bahkan langsung kembali ke tanah airnya tak lama setelah serangan terhadap rumah sakit itu. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





