Dia juga menegaskan bahwa demokrasi yang menempatkan kekuasaan di tangan rakyat, juga harus berjalan beriringan dengan kedaulatan hukum atau nomokrasi. Jika demokrasi berjalan tanpa nomokrasi dan sebaliknya, akan menimbulkan anarki dan kesewenangan.
“Saya berkeyakinan Mas Ganjar adalah figur yang tepat memimpin bangsa Indonesia untuk mewujudkan semua cita-cita tadi. Mempercepat dan melanjutkan pembangunan yang sudah baik, memperbaiki yang keliru dan melakukan inovasi baru sesuai perkembangan jaman dengan tetap berpegang pada konstitusi,” ujarnya.
Bekerja dengan tulus
Ganjar Pranowo, yang hadir bersama istrinya, Siti Atikoh Supriyanti, mengatakan menyanggupi amanah untuk menjadi capres dan cawapres partai koalisi karena ingin bekerja dengan tulus dan sepenuh hati untuk rakyat Indonesia.
“Ini bukan soal Ganjar, bukan tentang seorang Mahfud atau tentang kekuasaan. Ini tentang rakyat Indonesia, agar menjadi negara yang berdaulat, bukan saja dalam hal wilayah, tetapi juga pangan, politik, sosial dan banyak kedaulatan lain, termasuk kedaulatan digital,” ujar Ganjar.
Untuk itu keduanya menyatakan siap menciptakan kesetaraan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali.
Ganjar mengakui pemerintah mendatang harus bekerja jauh lebih keras dan lebih tegas, terutama dalam hal penegakkan hukum dan pemberantasan korupsi.
“Tegas, hitam putih, benar salah dan tidak abu-abu,” tegasnya.





