Studi: Pinjaman Tiongkok ke Afrika Anjlok ke Level Terendah

Warga Kenya menyaksikan kereta kargo SGR meninggalkan Mombasa menuju Nairobi, 30 Mei 2017. Proyek ini merupakan investasi senilai $3,3 miliar yang didukung China. Namun, studi menunjukkan jumlah pinjaman China ke Afrika kini telah menurun tajam.
Warga Kenya menyaksikan kereta kargo SGR meninggalkan Mombasa menuju Nairobi, 30 Mei 2017. Proyek ini merupakan investasi senilai $3,3 miliar yang didukung China. Namun, studi menunjukkan jumlah pinjaman China ke Afrika kini telah menurun tajam.

Proyeksi ke depan

Studi ini menunjukkan bahwa pinjaman ke Afrika di masa depan dapat mencakup lebih sedikit pinjaman skala besar yang nilainya melebihi $500 juta (sekitar Rp 7,7 triliun) dan diperkirakan lebih banyak pinjaman di bawah $50 juta (di bawah Rp 770 miliar).

Bacaan Lainnya

“Pemerintah di Afrika akan terus memiliki permintaan karena defisit infrastruktur dan target iklim, namun pemberi pinjaman Tiongkok kemungkinan akan menanggapi permintaan utang tersebut dengan parameter kebijakan baru,” kata Moses kepada VOA.

“Secara umum, kami memperkirakan jumlah pinjaman Tiongkok akan pulih karena (meningkatnya) permintaan negara-negara Afrika. Tapi rebound ini kemungkinan besar tidak akan kembali ke level sebelumnya,” ujarnya.

Cobus Van Staden, seorang analis di China Global South Project, sepakat bahwa suku bunga pinjaman tidak akan pernah lagi mencapai tingkat yang terlihat pada 2016.

Namun, katanya, “Saya pikir, ada kecenderungan untuk melihat penurunan pinjaman saat ini sebagai, ‘Oh, BRI sudah berakhir,’ yang menurut saya tidak realistis.

“Saya pikir BRI tidak pernah stabil, dan selalu bermutasi dan berubah, dan saat ini terus bermutasi dan berubah lagi. Jadi ini akan menghasilkan versi yang lebih ramping dan ramah lingkungan, dan kita lihat saja nanti,” katanya kepada VOA.

Van Staden memperkirakan bahwa “seiring dengan membaiknya perekonomian Tiongkok dan sedikit kembali pulih… saya pikir pinjaman akan kembali meningkat.”

Dia memperkirakan hal ini akan terjadi setelah Forum Kerjasama Tiongkok-Afrika tahun depan.

“Saya pikir kita mungkin berada dalam fase datar saat ini, dan kemudian saya pikir hal itu akan mulai meningkat kembali, karena hal yang perlu diingat adalah bahwa Afrika tidak akan hilang begitu saja.”

Afrika tetap membutuhkan Tiongkok dan, demikian pula, Afrika juga menawarkan manfaat bagi Tiongkok seperti akses terhadap sumber daya mineral yang melimpah di benua itu, katanya. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Total Views: 802

Pos terkait