Apple membutuhkan waktu kurang dari dua tahun untuk berhasil menutup perdagangan dengan nilai kapitalisasi pasar $3 triliun setelah melampaui $2 triliun untuk pertama kalinya pada Agustus 2021, dua tahun setelah perusahaan Cupertino, California, menembus nilai kapitalisasi pasar $1 triliun untuk pertama kalinya.
Pencapaian bernilai triliunan dolar itu adalah hasil kerajaan teknologi yang dibangun Apple sejak Jobs kembali ke perusahaan pada 1997 setelah dipecat oleh John Sculley, CEO Apple pada 1985.
Pada saat Jobs kembali, Apple nyaris bangkrut. Saking membutuhkan dana segar, Apple meminta bantuan suntikan pendanaan dari pesaingnya, Microsoft.
Saat ini, Apple menghasilkan begitu banyak uang hingga mampu menebar dividen sebesar $105 miliar per tahun kepada para investor dan melakukan pembelian kembali sahamnya (buy back). Itu pun masih menyisakan dana tunai hampir $56 miliar dalam kuartal fiskal terakhir.
iPhone, yang diluncurkan Jobs pada 2007 dengan ciri khas kecanggihan dan kepintarannya, tetap menjadi permata mahkota di kerajaan Apple. Tahun lalu, perangkat tersebut menyumbang lebih dari setengah penjualan perusahaan yang hampir mencapai $400 miliar.
Sisa pendapatan Apple mengalir dari produk-produk lain seperti komputer Macintosh, iPad, Apple Watch, AirPods, dan divisi layanan yang mencakup streaming musik dan video, program garansi, biaya yang dikumpulkan melalui toko aplikasi iPhone, dan komisi iklan yang dibayarkan Google kepada menjadi mesin pencari default di iPhone.
Meskipun sebagian besar inovasi Apple dilahirkan di bawah kepemimpinan Jobs, tetapi sebagian besar kekayaannya diciptakan di bawah CEO-nya saat ini, Tim Cook. Ia mengambil alih sebagai CEO tak lama sebelum Jobs wafat pada Oktober 2011. Ketika Jobs menyerahkan tongkat estafet kepada Cook, nilai pasar Apple mencapai $350 miliar. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





