Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowin (pengetahuan tentang moral),
moral feeling atau perasaan (penguatan emosi) tentang moral, dan moral action atau perbuatan bermoral.
Dengan demikian karakter tidak cukup hanya untuk diketahui, melainkan harus dilakukan dalam bentuk perbuatan moral, yang berujung pada pembiasaan sehari-hari.
Karakter akan lebih mudah dan berhasil dilakukan melalui pembiasaan hidup, berbentuk kegiatan sehari-hari yang pada akhirnya akan menjadi sebuah kebiasaan (habit) dan bukan disajikan secara teoritik. Penanaman disiplin, jujur, tanggung jawab, dan kerjasama lebih mudah dilakukan dan dibentuk melalui kegiatan
bermain, bukan disajikan secara teoritik. “Dengan bermain” seseorang akan kelihatan
karakternya, apakah dia disiplin, jujur, tanggung jawab, dan kerjasama atau tidak.
Pendidikan jasmani dan olahraga memiliki peran besar dalam upaya
pengembangan karakter, karena kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani melibatkan; kognitif, afektif dan psikomotor. Hal tersebut selaras dengan teori belajar gerak yang meliputi tiga tahapan, (1) kognisi, (2) asosiasi dan (3) otomatisasi. Pada
bagian asosiasi inilah intervensi terhadap nilai-nilai karakter diasah.
Kegiatan olahraga setiap komponen yang terlibat memiliki fungsi dan peran masing-masing. Ada pemain atau atlet, pelatih, wasit, dan penonton. Masing-masing memiliki peran yang berbeda,
dan tidak ada yang tumpang tindih, misalnya menjadi pemain sekaligus wasit, atau
wasit sekaligus penonton.
Karena kejelasan peran tersebut, maka secara ethics, olahraga dapat digunakan sebaga alat dalam membangun karakter bangsa. Pemain,
pelatih, wasit, dan penonton ketika berada di lapangan mematuhi peraturan yang berlaku, kesadaran mematuhi aturan tersebut menumbuhkan sikap disiplin, sportif dan
bertanggungjawab.





