Kepri Masih Jadi Jalur “Seksi” Penyelundupan Narkoba

Petugas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Narkotika sindikat Internasional, China, Malaysia dan Indonesia di Batam, Kepri pada 5 September 2021 lalu ( Humas DJBC Kepri)
Petugas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Narkotika sindikat Internasional, China, Malaysia dan Indonesia di Batam, Kepri pada 5 September 2021 lalu ( Humas DJBC Kepri)

Kepri – Kasus penyalahgunaan dan peredaran Narkotika, Psikotropika dan Prekursor (NPP) setiap tahunnya di Indonesia terus meningkat.

Melansir dari Kompas.com per tanggal 14 Juni 2021, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mencatat telah berhasil mengungkap sebanyak 19.229 kasus yang melibatkan sebanyak 24.878 orang sepanjang Januari-Juni 2021.

Bacaan Lainnya

Dari belasan ribu kasus tersebut diantaranya merupakan hasil pengungkapan kasus penyelundupan NPP jaringan internasional atau dari luar negeri.

Penyelundupan NPP jaringan internasional ini masih saja eksis dan seperti tiada habisnya, meskipun Pemerintah Republik Indonesia telah menutup pintu-pintu masuk ke negaranya selama dua tahun terakhir akibat mewabahnya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Alih-alih ruang gerak pelaku penyelundupan NPP ini menjadi semakin terbatas, mereka justru semakin bergerilya mencari jalan alternatif seperti masuk ke wilayah perbatasan untuk memastikan barang haram tersebut sampai ke tangan pecandu.

Salah satu pintu masuk penyelundupan NPP dari luar negeri itu, ialah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Provinsi Kepri sendiri dengan 7 kabupaten dan kota yang terdiri dari Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Anambas , Kabupaten Lingga, Kabupaten Natuna, Kota Batam dan Kota Tanjungpinang memiliki luas wilayah 251.810 km2 dengan 96 persen diantaranya merupakan lautan dan 4 persen berupa daratan.

Provinsi hasil pemekeran Provinsi Riau ini, memiliki total 2.408 pulau dengan jumlah pulau yang sudah berpenghuni hanya sebanyak 385 pulau.

Dari jumlah pulau itu, 19 pulau diantaranya berada paling terluar atau terdepan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura serta Laut China Selatan.

Geografis Kepri
Geografis Kepri

Banyaknya pulau menyebabkan Kepri memiliki banyak pintu masuk melalui pelabuhan-pelabuhan masyarakat.

Sehingga, kondisi tersebut membuat laut Kepri tergolong sangat rawan terjadinya penyelundupan NNP dari luar negeri atau jaringan internasional.

Terlebih, jarak tempuh yang cukup dekat dengan Semenanjung Malaka diketahui juga menjadi salah satu faktor pendukung yang membuat pelaku penyelundupan memilih Kepri sebagai jalur seksi masuknya barang haram tersebut.

Masuknya peredaran NPP ke Indonesia sejauh ini masih banyak berasal dari negara tetangga Malaysia.

Seperti yang disampaikan oleh Koordinator Humas Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ( Kanwil DJBC) Khusus Kepri Arief Ramadhan.

Arief menjelaskan bahwa dalam kurun waktu dua tahun saja, Kanwil DJBC Khusus Kepri telah melakukan tujuh penindakan penyeludupan Narkotika, Psikotropika dan Prekursor (NPP).

“Dalam waktu dua tahun terakhir ini ada tujuh penindakan, rata- rata penindakannya adalah penyelundupan NPP dari Malaysia,” kata Arief, Rabu (29/9/2021).

Arief menjelaskan, bahwa penyeludupan NPP melalui perairan Kepri tersebut bukan lagi dalam jumlah kecil, melainkan sudah mencapai angka puluhan hingga ratusan kilogram.

Seperti di tahun 2020 lalu, kata Arief, ada satu penindakan dengan barang bukti yang diamankan berupa Methamphetamine sebanyak 119 kilogram yang dikemas dengan kemasan teh cina.

Konferensi Pers Pengungkapan Kasus 107 kg sabu oleh DJBC Kepri dan Polda Kepri beberapa waktu yang lalu
Konferensi Pers Pengungkapan Kasus 107 kg sabu oleh DJBC Kepri dan Polda Kepri beberapa waktu yang lalu.

“Sementara, di tahun 2021 ini ada enam penindakan, terbesar barang bukti sebanyak 107 kilogram sabu- sabu yang kita amankan dari SB Edward BlackBeard pada awal September di perairan Kota Batam bersama Polda Kepri,” jelas Arif.

Dengan wilayah lautnya hingga 96 persen dan garis pantai yang cukup banyak, Arief tidak menampik bahwa Kepri merupakan wilayah yang rawan dan menjadi pilihan bagi pelaku penyelundupan untuk memasukan NPP ke Indonesia.

“Sepanjang pantai timur Sumatera sampai wilayah pantai barat Kalimantan dan pantai barat Sumatera itu merupakan daerah rawan penyeludupan narkoba, sehingga daerah- daerah ini menjadi fokus dalam melakukan pengawasan. Wilayah itu, juga langsung berbatasan dengan negara lain sehingga upaya penyeludupan rentan terjadi,” katanya.

Menyikapi masih maraknya penyelundupan NPP jaringan internasional. Ia menegaskan bahwa DJBC Khusus Kepri sangat berkomitmen dan terus berupaya untuk memberantasnya.

Salah satunya dengan memperkuat armada patroli laut, memperkuat intelijen, analisis dan target operasi serta bersinergi dengan Aparat Penegah Hukum lainnya dan masyarakat setempat.

“Patroli gabungan terus dilakukan, sinergitas antar Instansi juga harus kita perkuat lagi, sehingga dapat mencegah adanya upaya-upaya penyeludupan ini,” kata Arief.

Kepolisian Daerah (Polda) Kepri juga tidak luput untuk melakukan upaya menekan penyelundupan barang haram tersebut.

Salah satunya dengan melakukan kegiatan patroli laut rutin oleh kapal patroli milik Ditpolairud Polda Kepri dan dibantu oleh kapal patroli miluk Korpolairud Baharkam Polri.

“Selain itu, Polda Kepri juga melakukan upaya pencegahan dengan kerja sama lintas negara yakni dengan pihak kepolisian negara-negara tetangga melalui National Central Bureau (NCB) Interpol,” kata Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Harry Goldenheart ketika dikonfirmasi, Jum’at (1/10/2021).

Total Views: 1095

Pos terkait