Pemkot Semarang Resmikan Jalan YB Mangunwijaya, Simbol Harapan dari Tumpukan Sampah

Semarang, jurnalterkini.id – Pemerintah Kota Semarang meresmikan Jalan YB Mangunwijaya sebagai akses utama menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang pada Senin, 8 September 2025. Nama jalan ini bukan sekadar penanda arah, tetapi simbol penghormatan sekaligus pengingat: bahwa harapan bisa tumbuh bahkan dari tumpukan sampah.

Bacaan Lainnya

Romo YB Mangunwijaya—rohaniawan, arsitek, sekaligus pejuang kemanusiaan—dikenang karena keberpihakannya pada yang tersisih. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyebut penamaan ini sebagai bentuk penghormatan kepada sosok humanis yang semangat perjuangannya masih relevan hingga kini.

“Seandainya Romo Mangun masih hidup, beliau tentu memilih berdiri di sisi yang terpinggirkan. Di tempat yang dianggap kumuh, justru di situlah ia menyalakan harapan,” ujar Agustina.

Pemkot berharap semangat Romo Mangun dapat menginspirasi pengelolaan TPA Jatibarang agar lebih berkelanjutan. Sejumlah inisiatif tengah disiapkan, mulai dari penerapan sanitary landfill, konsep ekonomi sirkular, hingga proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang kini memasuki tahap tender internasional.

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang, Romo FX Sugiyana, yang hadir mewakili Uskup Agung Mgr. Robertus Rubiyatmoko, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, penempatan nama Romo Mangun di jalan menuju TPA justru paling sesuai dengan semangat yang beliau wariskan.

“Kalau berada di kawasan mewah atau elit, mungkin Romo Mangun tidak akan betah. Justru di sini, di jalan menuju TPA, semangat dan passion beliau tercermin,” kata Romo Sugiyana.

Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929. Ia dikenal luas bukan hanya sebagai rohaniwan, tetapi juga arsitek peraih Aga Khan Award for Architecture (1992) atas penataan Kampung Kali Code Yogyakarta, serta SEA Write Award (1986) sebagai sastrawan. Di era 1980-an, ia menjadi pembela warga dalam konflik pembangunan Waduk Kedungombo—menempatkannya sebagai suara bagi mereka yang tak terdengar.

Kini, namanya terpatri di jalan yang membelah kawasan perbukitan Jatibarang. Jalan itu menuju tempat akhir, namun di sanalah juga harapan sedang dibangun.(PH)

Total Views: 423

Pos terkait