
Dari jumlah seluruh karyawan tersebut, Rafiq mengaku meski pandemi COVID-19 masih terjadi, tidak ada karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tidak ada perusahaan yang berhenti beroperasi.
Untuk itu, orang nomor satu di Karimun ini meminta agar perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di wilayahnya ini agar dapat memenuhi komitmennya agar memprioritaskan tenaga kerja lokal sebesar 70 persen.
Menurutnya, hal itu bisa dilakukan seperti PT Saipem Karimun Yard yang sudah lebih dulu melakukan penandatanganan kesepakatan bersama untuk memprioritaskan 70% tenaga kerja lokal.
Pada perusahaan produksi anjungan minyak lepas pantai dan offshore asal Italia itu, saat ini telah memperkerjakan 3.100 tenaga kerja dari total 5.000 tenaga kerja dibutuhkan.
“Dari 3.100 tenaga kerja di PT Saipem, rinciannya 8 persen dari Desa Pangke, kemudian 53 persen untuk pemuda Karimun, 32 persen untuk luar Karimun, dan 1,3 persen merupakan tenaga kerja asing asal Italia dan 0,3 persen dari Prancis,” kata Rafiq.
Dengan masih dibutuhkannya 1.900 tenaga kerja lagi, ia menyampaikan harapannya agar PT Saipem dapat memprioritaskan tenaga kerja lokal atau anak tempatan, khususnya kembali memanggil mantan karyawannya yang sudah punya keterampilan untuk bekerja.
Baca juga: Destinasi Pantai Tulang makin layak dikunjungi, ini alasannya





