Dipenuhi Tunawisma, Bukan Siswa
Serangan Israel yang berlangsung 11 bulan meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Gaza dan menimbulkan krisis kemanusiaan. Malnutrisi dan penyebaran penyakit meluas. Lebih dari 40.000 warga Palestina tewas, menurut pejabat kesehatan Gaza. Anak-anak adalah salah satu yang paling parah terdampak. Ingram mengatakan hampir semua dari 1,1 juta anak di Gaza diperkirakan memerlukan bantuan psikososial.
Israel mengatakan bahwa serangannya bertujuan untuk melenyapkan Hamas agar organisasi tersebut tidak dapat mengulangi serangan pada 7 Oktober, di mana militan menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan dan menculik 250 lainnya.
Konflik tersebut juga menghambat pendidikan bagi anak-anak Palestina di Tepi Barat, di mana Israel juga mengintensifkan pembatasan pergerakan dan melakukan penggerebekan besar-besaran.
“Pada hari apa pun sejak Oktober, antara 8 persen dan 20 persen sekolah di Tepi Barat ditutup,” kata Ingram. Ketika sekolah dibuka, tingkat kehadiran siswa juga berkurang karena anak-anak takut, katanya.
Para orang tua di Gaza mengungkapkan kesulitan dalam memberikan pelajaran informal kepada anak-anak mereka di tengah kekacauan yang melanda sekitar mereka.
Di sebuah sekolah di pusat Kota Deir al-Balah, ruang kelas terlihat dipenuhi keluarga. Cucian mereka tampak digantung di tangga luar. Jajaran tenda-tenda rombeng dari seprai dan terpal, disangga dengan batang-batang, memenuhi halaman sekolah.
“Masa depan anak-anak hancur,” kata Umm Ahmed Abu Awja, dikelilingi oleh sembilan cucunya yang masih kecil. “Apa yang mereka pelajari tahun lalu benar-benar terlupakan. Jika mereka kembali ke sekolah, mereka harus memulai dari awal.” [voa]
Jaringan: VOA





