Masa Depan Anak-anak Gaza Terancam Hancur Karena Tidak Sekolah

Anak-anak mengikuti kelas yang diajarkan oleh Israa Abu Mustafa (30) di tenda di tengah reruntuhan akibat perang antara Israel dan Hamas di Khan Yunis, Gaza Selatan, 4 September 2024. (Foto: AFP)
Anak-anak mengikuti kelas yang diajarkan oleh Israa Abu Mustafa (30) di tenda di tengah reruntuhan akibat perang antara Israel dan Hamas di Khan Yunis, Gaza Selatan, 4 September 2024. (Foto: AFP)

Rindu Sekolah

Kelompok-kelompok bantuan berupaya menyiapkan alternatif pendidikan, tetapi hasilnya terbatas karena mereka harus menangani berbagai kebutuhan mendesak lainnya.

Bacaan Lainnya

UNICEF dan lembaga-lembaga bantuan lainnya mengoperasikan 175 pusat pembelajaran sementara, sebagian besar didirikan sejak akhir Mei, yang melayani sekitar 30.000 siswa dengan bantuan sekitar 1.200 guru sukarelawan, kata Ingram. Mereka menawarkan kelas literasi dan numerasi serta kegiatan untuk kesehatan mental dan pengembangan emosional.

Namun, dia mengatakan mereka kesulitan memperoleh perlengkapan seperti pena, kertas, dan buku karena barang-barang tersebut tidak dianggap sebagai material prioritas penyelamatan nyawa, sementara kelompok bantuan berjuang untuk mengirimkan cukup makanan dan obat-obatan ke Gaza.

Pada Agustus, UNRWA meluncurkan program “kembali belajar” di 45 sekolah yang beralihfungsi menjadi tempat penampungan. Program ini menyediakan kegiatan seperti permainan, drama, seni, musik, dan olahraga untuk anak-anak, bertujuan memberi mereka waktu istirahat, kesempatan untuk bersosialisasi dengan teman-teman, dan merasakan kembali masa kanak-kanak mereka, kata juru bicara Juliette Touma.

Palestina telah lama menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Sebelum perang, Gaza memiliki tingkat literasi yang sangat tinggi, hampir 98 persen.

Saat terakhir kali mengunjungi Gaza pada April, Ingram mengungkapkan bahwaanak-anak sering mengatakan kepadanya bahwa mereka rindu kembali bersekolah, teman-teman, dan guru-guru mereka. Ketika seorang anak laki-laki menjelaskan betapa dia ingin kembali ke kelas, dia tiba-tiba berhenti dengan panik dan bertanya, “Saya bisa kembali, bukan?”

“Itu sangat memilukan bagi saya,” katanya.

Orang tua melaporkan bahwa tanpa adanya kegiatan belajar mengajar di sekolah, ditambah dengan trauma dari pengungsian, pengeboman, serta kerugian keluarga, anak-anak mereka mengalami perubahan emosional. Beberapa menjadi cemberut dan menarik diri, sementara yang lain mudah gelisah atau frustrasi.

Total Views: 602

Pos terkait