Industri Tekstil Dalam Negeri Terseok-seok Memintal Nasib

Para pekerja membuat pakaian di sebuah pabrik di Cakung, permukiman industri kecil di Jakarta (foto: ilustrasi/Reuters).
Para pekerja membuat pakaian di sebuah pabrik di Cakung, permukiman industri kecil di Jakarta (foto: ilustrasi/Reuters).

Jawa Tengah adalah salah satu pusat tekstil, bahkan rumah bagi salah satu perusahaan ternama di sektor ini. Namun, belakangan satu persatu pelaku usaha mulai bertumbangan, menegaskan perumpamaan lama yang selalu dipakai untuk menggambarkan situasi sekarat: hidup segan mati tak mau.

SOLO, JAWA TENGAH – Johan, pegawai salah satu pabrik tekstil di Jawa tengah ini tak bisa membayangkan perusahaan tempatnya bekerja belasan tahun, terancam gulung tikar.

Bacaan Lainnya

“Industri tekstil ini industri padat karya. Menyerap banyak pekerja seperti saya. Bisa dibayangkan industri ini berhenti. Selama pabrik berjalan, karyawan dapat gaji memenuhi kebutuhan hidupnya. Kami di pabrik, ya, operasional berjalan pelan, tapi produk tekstil kami sulit dijual, di dalam negeri sudah banyak tekstil impor”, ungkap Johan dengan mata berkaca-kaca.

Di saat yang sama, ratusan karyawan pabrik tekstil kembali mendatangi kantor Bupati Karanganyar, Jawa Tengah pada Selasa (25/6/2024). Mereka mengadu soal kejelasan nasib, lantaran sampai kini gaji empat bulan tak kunjung dibayarkan dan Tunjangan Hari Raya (THR) dari perusahaan juga tak jelas nasibnya.

Terpisah, seorang karyawan pabrik tekstil di Solo yang enggan disebut identitasnya hanya menyebut dua kata untuk menggambarkan situasi pabrik tempatnya bekerja: susah atau sulit. Dia masih memakai seragam bermotif batik biru saat membincangkan situasi pekerjaannya bersama VOA.

Kondisi yang mirip diceritakan Harisson Silaen, Direktur Umum PT Dan Liris Sukoharjo, pabrik tekstil yang sebelumnya rutin mengekspor produknya. Dia bilang, kondisi industri tekstil tahun ini adalah yang terburuk, di mana hanya separuh mesin produksi yang beroperasi.

“Pabrik tekstil yang tutup, pekerja di-PHK sudah bukan rahasia umum lagi. Media sudah memberitakannya, nama perusahaan hingga jumlah pekerja yang di-PHK secara gamblang. Perlu diingat, banyak industri tekstil bernasib serupa tidak terekspose, diam-diam mengurangi karyawan,” katanya.

Harrison menambahkan, “Utilitas mesin dan pekerja sudah drop. Maksimal hanya 45 persen. Kalau karyawan dipertahankan, sementara perusahaan minim omzet, maka performa akan merosot. Grafik selama 9 tahun terakhir, tahun 2023 dan 2024 ini kondisi terburuk. Faktor pasar, teknologi, regulasi dan lainnya.”

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kinerja ekspor industri tekstil Indonesia melemah di tahun 2023. Komoditas tersebut terdiri benang pintal, kain tenun, serat stapel buatan, serat/benang/strip filamen buatan, kain rajutan, kain sulaman/bordir, serat tekstil, sutra, dan sebagainya.

Pada 2023 volume ekspor industri tekstil nasional mencapai 1,49 juta ton, turun 2,43 persen dibanding 2022. Nilai ekspornya juga merosot 14,78 persen, menjadi sekitar $3,6 miliar. Kinerja ekspor industri tekstil Indonesia sudah melemah dua tahun beruntun, 2022 dan 2023. Bahkan 2023 volume ekspornya lebih kecil dibanding masa pandemi, serta menjadi rekor terendah dalam sembilan tahun terakhir.

Total Views: 663

Pos terkait