Aturan Baru Pemisahan Perempuan dan Laki-laki
Menurut JK, Menteri Pertahanan Afghanistan Mullah Mohammad Yaqoob Mujahid memahami hal itu. Namun khusus mengenai pendidikan bagi anak perempuan dan partisipasi perempuan di ruang publik, Taliban meminta JK melihat langsung situasi di Kabul, di mana perempuan mulai ikut memasuki dunia kerja dengan bekerja di rumah sakit dan fasilitas pemerintah.
“Saya katakan bahwa itu saja belum cukup. Saya mendesak juga untuk membantu pendidikan bagi kaum perempuan. Malah saya tawarkan untuk membuat sekolah seperti “Sahabat Perempuan,” kata JK.
Menurut JK, pada prinsipnya Taliban setuju, tetapi meminta untuk menunggu pemberlakuan aturan baru yang akan memisahkan murid laki-laki dan perempuan.
“Saya kira ini OK saja. Saya juga sampaikan kepada mereka, ingat siapa Siti Khatidjah, istri Nabi adalah pengusaha hebat. Juga Aisyah, juga punya pendidikan yang baik. Mereka (Taliban.red) memahami hal ini dan lagi-lagi mengatakan sedang menyiapkan aturan baru yang akan memisahkan laki-laki dan perempuan di sekolah dan tempat kerja,” kata JK lebih lanjut.
Taliban belum memerinci aturan baru itu atau soal kapan laporan tersebut akan diberlakukan.
JK mengatakan bisa jadi hal ini dikarenakan Taliban sedang mengalami dilema.
“Ada aturan kalau pasien perempuan, harus diperiksa oleh dokter perempuan, dilayani oleh suster perempuan. Tapi bagaimana mereka bisa punya dokter dan perawat perempuan, jika sedari kecil sekolah mereka dibatasi. Waktu saya sampaikan logika ini, mereka bilang bahwa mereka tidak membatasi perempuan bersekolah, tapi sedang membuat aturan yang lebih baik. OK lah, kita tunggu itu,” katanya.





