Dua Harimau Sumatra Dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Leuser

FILE - Harimau Sumatera yang siap dilepasliarkan di ekosistem hutan Leuser di Provinsi Aceh, 19 Juni 2020. (Chaideer Mahyuddin/AFP)
FILE - Harimau Sumatera yang siap dilepasliarkan di ekosistem hutan Leuser di Provinsi Aceh, 19 Juni 2020. (Chaideer Mahyuddin/AFP)

MEDAN – Dua harimau Sumatra bernama Ambar dan Beru, Rabu (6/3/2024) dilepasliarkan ke habitatnya di zona inti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Pelepasliaran itu dilakukan setelah dua harimau Sumatra tersebut telah melewati fase rehabilitasi di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS), Padang Lawas Utara, Sumatra Utara.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, mengatakan dipilihnya TNGL menjadi tempat pelepasliaran karena kawasan tersebut merupakan salah satu wilayah konservasi paling penting di bumi.

Bacaan Lainnya

“Pelepasliaran ini dilakukan di Leuser. Leuser itu di dunia dikenal sebagai keping terakhir bumi yang sekaligus di dalamnya ada empat flagship species yaitu harimau, gajah, orang utan, dan badak,” kata Siti di Medan.

Dua Harimau Naik Helikopter

Kedua harimau endemik Pulau Sumatra itu dibawa dari Kota Medan menuju kawasan TNGL menggunakan tiga helikopter. Harimau bernama Ambar merupakan betina yang usianya berkisar antara 5-6 tahun. Ambar adalah harimau yang dievakuasi dari Desa Bukitmas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumut, pada 21 Desember 2022 usai menjadi korban konflik dengan manusia. Lalu, Ambar dibawa ke BNWS untuk direhabilitasi.

Sementara, Beru, harimau Sumatra betina berusia 3-4 tahun diselamatkan dari kawasan hutan lindung di wilayah Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh, setelah berkonflik dengan manusia pada Februari 2023. Kemudian, dia dibawa ke BNWS pada April 2023 untuk menjalani rehabilitasi.

Menurut Menteri LHK, harimau merupakan spesies yang menjadi perhatian internasional karena menjadi satwa kharismatik. Bukan hanya itu, harimau juga disebut sebagai flagship species.

“Disebut flagship species atau jenis-jenis satwa strategis sebagai indikator bagusnya bentang alam atau hutan yaitu harimau, gajah, orang utan, dan badak,” ungkap Siti.

Siti juga menjelaskan sudah lebih dari 500 ribu ekor satwa mulai dari burung, tukik (anak penyu), lumba-lumba, harimau, dan orang utan yang dilepasliarkan ke habitatnya dalam kurun waktu hampir delapan tahun.

“Ini bukan yang pertama kali karena saya juga pernah melepasliarkan harimau di Jambi dan beberapa tempat,” jelasnya.

Total Views: 784

Pos terkait