Kompleks ini telah lama menjadi tempat keagamaan yang sangat diperebutkan, karena terletak di Bukit Bait Suci, yang oleh orang Yahudi dianggap sebagai situs paling suci bagi mereka. Kota ini terletak di Yerusalem timur, bagian dari kota yang diduduki Israel selama perang Timur Tengah pada 1967 dan kemudian dianeksasi.
Palestina ingin menjadikan kota ini sebagai ibu kota negara mereka di masa depan.
Amerika Serikat (AS) dan mediator internasional lainnya telah mendorong gencatan senjata di Gaza bertepatan dengan awal Ramadhan. Namun belum ada terobosan.
Sebagian besar pemilik toko di Kota Tua menolak memberikan pandangan mereka tentang Ramadan yang akan datang. Puluhan warga Palestina telah ditahan oleh Israel karena menggunggah kirim teks ke media sosial tentang perang di Gaza sejak perang itu dimulai.
Beberapa orang yang tidak keberatan berbicara mengatakan bahwa lebih banyak Israel sudah mengerahkan lebih banyak polisi di Kota Tua sejak Oktober. Para pria Palestina yang berusia muda kerap dilarang memasuki kompleks Al-Aqsa untuk salat Jumat pada Jumat (9/3/2024) sejak perang dimulai, menurut pemilik toko. Hal ini memicu spekulasi tentang kemungkinan pembatasan lainnya. Polisi Israel tidak menanggapi permintaan komentar.
Menurut media Israel, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, telah berupaya untuk melarang semua warga Palestina di Tepi Barat, serta para pemuda yang termasuk di antara lebih dari dua juta warga Palestina di Israel. Juru bicaranya tidak menanggapi permintaan komentar.
Badan militer Israel yang bertanggung jawab atas urusan Palestina di Tepi Barat, yang dikenal sebagai COGAT, mengatakan pada Jumat (9/3) bahwa sebagaian warga Muslim dari Tepi Barat akan diizinkan masuk dari wilayah tersebut untuk salat tarawih. Namun, COGAT tidak menjelaskan lebih jauh. Tahun lalu, puluhan ribu jemaah bisa masuk, kebanyakan dari mereka adalah perempuan, anak-anak, dan pria lanjut usia.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga tidak memberikan pernyataan yang jelas. Dia hanya mengatakan bahwa jumlah orang yang akan diizinkan untuk salat di Al-Aqsa selama minggu pertama Ramadan tahun ini, sama seperti tahun lalu. Netanyahu mengatakan, hal ini akan dievaluasi setiap minggunya sepanjang bulan. Tidak ada perincian lebih lanjut yang dipublikasikan.
Di bawah pengaturan informal sejak 1967, kompleks tersebut dikelola oleh sebuah badan keagamaan Muslim yang berbasis di Yordania yang dikenal sebagai Wakaf. Orang-orang Yahudi diperbolehkan mengunjungi kompleks tersebut, tetapi tidak boleh berdoa di sana. Perjanjian tersebut gagal dalam beberapa tahun terakhir karena kelompok besar Yahudi, termasuk kelompok nasionalis agama garis keras, sering berkunjung ke sana. Beberapa di antara mereka telah mencoba untuk berdoa di tempat tersebut.
Pada hari-hari menjelang Ramadan, warga Palestina di Tepi Barat tidak yakin apakah mereka dapat salat di masjid itu.
Secara umum, warga Palestina di wilayah tersebut memerlukan izin untuk memasuki Yerusalem timur, yang dianggap Israel sebagai bagian dari ibu kotanya, meskipun aneksasinya tidak diakui oleh sebagian besar komunitas internasional. Sejak 7 Oktober, Israel telah melarang warga Palestina memasuki Yerusalem atau bagian mana pun dari Israel.
“Merupakan impian setiap warga Palestina, Muslim, dan Arab untuk salat di Masjid Al-Aqsa selama Ramadhan,” kata Akram al Baghdadi, seorang warga Ramallah yang memiliki keluarga besar yang tersebar di Tepi Barat dan Gaza. [voa]
Jaringan: VOA






