Hamas Hadiri Perundingan Gencatan Senjata di Kairo ketika Israel Bombardir Gaza

Asap mengepul menyusul pemboman Israel di Rafah timur di Jalur Gaza selatan, 13 Februari 2024, di tengah konflik Israel dan kelompok militan Hamas, Palestina. (SAID KHATIB/AFP)
Asap mengepul menyusul pemboman Israel di Rafah timur di Jalur Gaza selatan, 13 Februari 2024, di tengah konflik Israel dan kelompok militan Hamas, Palestina. (SAID KHATIB/AFP)

Kepala Kemanusiaan PBB Martin Griffiths mengatakan operasi militer apa pun “dapat menyebabkan pembantaian”.

Warga sipil yang ketakutan terpaksa mencari keselamatan.

Bacaan Lainnya

Tekanan semakin meningkat terhadap Mesir untuk membuka perbatasannya bagi warga sipil Palestina, ratusan ribu di antaranya mencari perlindungan di kamp-kamp sementara di perbatasan tempat mereka menghadapi wabah hepatitis dan diare serta kelangkaan makanan dan air.

Namun tempat itu tetap tertutup bagi warga Gaza.

“Selama 100 hari kami memasuki penyeberangan dan memohon kepada mereka agar mengizinkan kami menyeberang, atau melakukan apa pun untuk membantu kami,” kata warga Palestina Habiba Nakhala.

Presiden AS Joe Biden mengatakan warga sipil di Rafah “perlu dilindungi”, dan menyebut mereka “di tempat terbuka dan rentan”.

Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan “kemenangan penuh” tidak dapat dicapai tanpa pemusnahan batalyon terakhir Hamas di Rafah.

Menjelang perundingan di Kairo, kelompok Israel mengirimkan permintaan kepada kepala Mossad, yang mengatakan bahwa delegasi tersebut “tidak boleh kembali tanpa kesepakatan”.

Ketika ditanya oleh wartawan apakah dia yakin warga Amerika di antara para sandera masih hidup, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Kirby mengatakan: “Kami tidak memiliki informasi sebaliknya”. [voa]

Jaringan: VOA

Total Views: 317

Pos terkait