Julia mengaku tidak menerima undangan melalui surel untuk mendaftarkan dirinya ke dalam DPT Los Angeles pada masa pendaftaran yang ditutup di akhir Juni tahun lalu. Ia juga tidak mengikuti akun media sosial KJRI LA yang biasa membagikan informasi mengenai pelaksanaan pemilu di Los Angeles.
“Saya old school (kuno, red.),” ungkapnya.
Saat diwawancarai VOA setelah ditolak panitia, Julia merasa frustrasi.
“Sistem ini tidak baik, karena mempersulit orang-orang yang mau memilih, dengan alasan kamu sudah terdaftar di kota awal kamu mendaftar sesuai KTP,” ujarnya. “Maaf, saya orang yang rasional, saya nggak mau menghabiskan duit belasan juta untuk tiket pulang-pergi hanya (untuk) memilih satu suara.”
Namun, ketika ia hampir pulang dengan kecewa, ia bertemu dengan salah seorang panitia, yang kemudian mengizinkannya memilih dengan mendaftarkan diri ke dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK).
DPK yaitu daftar pemilih yang memiliki identitas kependudukan, tetapi belum terdaftar dalam DPT dan DPTb.
“Akhirnya saya senang karena berhasil bersuara, tidak merasa diabaikan oleh negara sendiri,” kata Julia.
Saat dikonfirmasi VOA melalui pesan teks mengenai masalah yang dihadapi Julia, Rosdiana mengatakan, “Kami putuskan bersama panwaslu dan saksi, untuk pemilih yang tercatat di dalam negeri, padahal sudah ada bukti domisili di wilayah kerja KJRI LA akan diberikan kesempatan paling terakhir masuk ke DPK.”
Terdapat 15 TPSLN di seluruh Amerika Serikat dengan total 22.822 pemilih, setara 0,01 persen dari jumlah keseluruhan pemilih pada pemilu kali ini.
Penghitungan suara di Los Angeles, seperti di lima kota lainnya di AS – San Francisco, Houston, Chicago, New York dan Washington – rencananya akan dilakukan pada 14 Februari untuk surat suara yang dicoblos di TPSLN, dan pada 15 Februari untuk surat suara yang dikirim melalui pos. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





