PBB Prihatin Banyaknya Jurnalis Tewas dalam Konflik Israel-Hamas

Istri Hamza al-Dahdouh (kanan), jurnalis jaringan televisi Al Jazeera, dan ayah Hamza, Wael al-Dahdouh kepala biro Al Jazeera di Gaza (kiri) berduka saat pemakaman Hamza, yang terbunuh dalam serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza Senin, 7 Januari 2024.
Istri Hamza al-Dahdouh (kanan), jurnalis jaringan televisi Al Jazeera, dan ayah Hamza, Wael al-Dahdouh kepala biro Al Jazeera di Gaza (kiri) berduka saat pemakaman Hamza, yang terbunuh dalam serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza Senin, 7 Januari 2024.

Investigasi yang dilakukan berbagai organisasi, termasuk Reuters membantah klaim tersebut. Hasil analisis bulan lalu menunjukkan bahwa tembakan tank Israel pada Oktober menewaskan jurnalis kantor berita tersebut, Issam Abdallah, dalam serangan yang tampaknya disengaja. Hasil investigasi mendapati bahwa Israel mengetahui lokasi tim jurnalis tersebut.

Kepala biro di Lebanon Maya Gebeily mengatakan Reuters menuntut pertanggungjawaban. Dia menyoroti kondisi berbahaya di tempat rekan-rekannya bekerja.

Bacaan Lainnya

Melalui Skype ia mengatakan, “Ini adalah pola yang sangat buruk di mana kita melihat jurnalis tidak bisa melakukan tugas dan terhambat dalam melakukan pekerjaan mereka karena pemboman yang tidak pandang bulu.”

Dengan adanya pertempuran sengit, sementara akses ke Gaza terbatas, laporan dari jurnalis lokal sangatlah penting, kata Gebeily.

Masih melalui Skype, Gebeily menambahkan, “Kalau ada jurnalis di sana dan menyampaikan siaran-siaran langsung, pertanggungjawaban akan semakin memungkinkan.”

Sementara Dahdouh lagi-lagi harus memakamkan anaknya, Pengadilan Kriminal Internasional mengonfirmasi kepada Reporters Without Borders atau Wartawan Tanpa Batas, bahwa kejahatan terhadap jurnalis termasuk dalam penyelidikan yang mereka lakukan terhadap perang tersebut. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Pos terkait