Investigasi yang dilakukan berbagai organisasi, termasuk Reuters membantah klaim tersebut. Hasil analisis bulan lalu menunjukkan bahwa tembakan tank Israel pada Oktober menewaskan jurnalis kantor berita tersebut, Issam Abdallah, dalam serangan yang tampaknya disengaja. Hasil investigasi mendapati bahwa Israel mengetahui lokasi tim jurnalis tersebut.
Kepala biro di Lebanon Maya Gebeily mengatakan Reuters menuntut pertanggungjawaban. Dia menyoroti kondisi berbahaya di tempat rekan-rekannya bekerja.
Melalui Skype ia mengatakan, “Ini adalah pola yang sangat buruk di mana kita melihat jurnalis tidak bisa melakukan tugas dan terhambat dalam melakukan pekerjaan mereka karena pemboman yang tidak pandang bulu.”
Dengan adanya pertempuran sengit, sementara akses ke Gaza terbatas, laporan dari jurnalis lokal sangatlah penting, kata Gebeily.
Masih melalui Skype, Gebeily menambahkan, “Kalau ada jurnalis di sana dan menyampaikan siaran-siaran langsung, pertanggungjawaban akan semakin memungkinkan.”
Sementara Dahdouh lagi-lagi harus memakamkan anaknya, Pengadilan Kriminal Internasional mengonfirmasi kepada Reporters Without Borders atau Wartawan Tanpa Batas, bahwa kejahatan terhadap jurnalis termasuk dalam penyelidikan yang mereka lakukan terhadap perang tersebut. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





