JAKARTA – Presiden Partai Buruh Said Iqbal mengatakan tidak akan memilih dan memberikan dukungan kepada semua calon presiden dan calon wakil presiden dalam pemilihan presiden pada Februari 2024.
Ia beralasan tidak ada satu pun kandidat capres dan cawapres yang bersedia melakukan kontrak politik dengan buruh. Selain itu, para kandidat juga tidak mau menghadiri undangan yang disampaikan Partai Buruh untuk berdialog.
“Para capres dan cawapres diundang pengusaha melalui Apindo atau Kadin berbondong-bondong datang. Tapi ketika Partai Buruh mengundang para capres dan cawapres tidak ada yang datang. Ini menunjukkan keberpihakan capres lebih ke pemilik modal,” ujar Said Iqbal secara daring, Rabu (20/1/2023).
Alasan lainnya karena para capres-cawapres tidak mendukung perjuangan buruh dalam menuntut kenaikan upah minimum sebesar 15 persen pada tahun 2024 nanti. Padahal, kata Iqbal, setidaknya ada sekitar 6 juta suara buruh yang dapat disumbangkan jika ada capres yang mendukung buruh.
Partai Buruh terdiri dari empat konfederasi serikat pekerja terbesar di Indonesia, antara lain Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI).
“Partai Buruh bilamana akan mendukung capres dan cawapres akan menyumbangkan suara 6,5 juta sampai 10 juta suara,” tambah Said Iqbal.
Kendati demikian, Said Iqbal tidak menutup kemungkinan bahwa Partai Buruh akan memberikan dukungan pada putaran kedua pemilihan presiden pada Juni 2024 mendatang. Menurut jajak pendapat sejumlah lembaga survei, sejauh ini belum ada pasangan calon elektabilitasnya lebih dari 50 persen.






