Krisis Kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat Makin Parah

Para pasien dan pengungsi di Rumah Sakit Shifa di Gaza City, Jumat, 10 November 2023, di tengah pertempuran antara Israel dan Hamas. (Foto: Khader Al Zanoun/AFP)
Para pasien dan pengungsi di Rumah Sakit Shifa di Gaza City, Jumat, 10 November 2023, di tengah pertempuran antara Israel dan Hamas. (Foto: Khader Al Zanoun/AFP)

Menurutnya, sebanyak 65 truk yang membawa makanan, obat-obatan dan serta bantuan lainnya menyeberang melalui Mesir ke Gaza melalui penyeberangan Rafah. Dengan demikian, sebanyak jumlah total truk yang sudah memasuki Gaza sejak 21 Oktober mencapai 821 truk.

Sebelum konflik saat ini, kata Laerske, sekitar 500 truk bantuan memasuki Gaza setiap hari kerja.

Bacaan Lainnya

“Sekarang sulit sekali bagi pekerja bantuan, bagi kami untuk masuk, untuk truk-truk masuk. Dan kedua, bagian selatan Gaza tidak aman. Tidak aman,” katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) juga sependapat. Badan itu melaporkan bahwa 20 dari 36 rumah sakit di Gaza sudah tidak berfungsi. Sisa 16 rumah sakit yang masih beroperasi hanya menyediakan layanan paling dasar.

“Mereka tidak punya pasokan yang cukup. Mereka tidak punya obat bius. Mereka tidak punya disinfektan, dan mereka sangat, sangat padat,” kata juru bicara WHO, Margaret Harris.

“Kami siap mengirimkan tim medis gawat darurat ke Gaza untuk mendukung sistem kesehatan, tetapi tidak ada akses aman. Tidak ada tempat yang aman,” katanya.

“Lihat jumlah rekan-rekan UNRWA (UN Relief and Works Agency for Palestine Refugees) yang sudah terbunuh.”

Badan PBB yang mengurusi pengungsi Palestina itu mengatakan sekitar 100 anggota stafnya sudah terbunuh.

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Jumlah anggota staf yang terbunuh dalam jangka waktu yang singkat belum pernah terjadi dalam sejarah PBB,” kata Rolando Gomez, kepala pers dan hubungan eksternal di Jenewa. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Total Views: 306

Pos terkait