Krisis Kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat Makin Parah

Para pasien dan pengungsi di Rumah Sakit Shifa di Gaza City, Jumat, 10 November 2023, di tengah pertempuran antara Israel dan Hamas. (Foto: Khader Al Zanoun/AFP)
Para pasien dan pengungsi di Rumah Sakit Shifa di Gaza City, Jumat, 10 November 2023, di tengah pertempuran antara Israel dan Hamas. (Foto: Khader Al Zanoun/AFP)

JENEWA – Sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan krisis kemanusiaan di Gaza makin parah seiring dengan meningkatnya jumlah kematian, pembunuhan sejumlah pekerja-pekerja bantuan PBB yang menyentuh tingkat yang belum pernah terjadi.

Selain itu, seluruh lingkungan rata dengan tanah akibat pengeboman yang bertubi-tubi, dan jutaan orang tidak bisa menerima makanan, air, obat-obatan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Bacaan Lainnya

“Jika ada neraka di Bumi saat ini, itu namanya Gaza bagian utara. Bagi orang-orang yang masih bertahan di sana, ujung keberadaan mereka adalah kematian, kekurangan, keputusasaan, pengungsian, dan kegelapan dalam arti sesungguhnya,” kata Jens Laerke, juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/UN OCHA]

“Seluruh Jalur Gaza sudah dalam kegelapan sejak 11 Oktober ketika jaringan listrik dimatikan dan bahan bakar minyak (BBM) sudah tidak datang lagi,” kata Laerke.

Pasukan Israel memblokir total Gaza setelah Hamas yang berbasis di wilayah itu melancarkan serangan besar-besaran di selatan Israel pada 7 Oktober.

Hamas juga menahan 240 sandera saat penyerangan dan terus menembakkan roket-roket ke wilayah Israel.

Meski Israel melonggarkan sebagian kepungan terhadap Gaza pada 21 Oktober, negara itu masih menolak mengizinkan pasokan BBM untuk masuk ke wilayah itu. Israel beralasan Hamas akan menyelewengkan pasokan BBM itu untuk tujuan militernya.

Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa Israel sudah setuju untuk menerapkan jeda kemanusiaan selama empat jam setiap harinya agar warga sipil bisa mengungsi dari Gaza utara ke tempat yang lebih aman di Selatan dan truk-truk berisi bantuan yang sangat dibutuhkan untuk memasuki kantong permukiman itu.

Laerke mengatakan jeda empat jam tidak memungkinkan untuk membawa bantuan yang cukup ke Gaza melalui penyeberangan Rafah. Dia mengatakan Rafah “didesain dan dibangun untuk penyeberangan pejalan kaki. Jalan itu tidak dibangun untuk dilewati truk-truk.”

“Penyeberangan itu digunakan dan dibangun untuk dilewati truk-truk ada penyeberangan Kerem Shalom…oleh karena itu kami mengadvokasi dengan pihak berwenang Israel untuk membuka kembali dan menggunakan penyeberangan itu,” katanya.

Total Views: 302

Pos terkait