Ekowisata Hiu Paus Semakin Menuai Kontroversi

Ekowisata Hiu Paus – Wisatawan bisa berada dalam jarak sangat dekat dengan hiu paus (Dokumentasi Hiu Paus Gorontalo-Fahry Amar)
Ekowisata Hiu Paus – Wisatawan bisa berada dalam jarak sangat dekat dengan hiu paus (Dokumentasi Hiu Paus Gorontalo-Fahry Amar)

Hiu yang mengalami stres cenderung kehilangan selera makan sehingga mengurangi frekuensi makannya. Dalam jangka panjang, frekuensi makan yang menyusut akan mengurangi asupan energi yang pada akhirya akan menurunkan kemampuan reproduksi atau kelangsungan hidupnya.

Ikan yang tergolong spesies yang terancam punah berdasarkan Uni Internasional Konservasi Alam (IUCN) in juga mengalami perubahan perilaku karena interaksinya yang intens dengan manusia.

Bacaan Lainnya

Sebuah studi di Bahia de los Angeles, Meksiko yang diterbitkan di jurnal Oryx tahun 2018 menunjukkan, kontak dengan manusia membuat sejumlah hiu paus mengubah cara mereka menyelam dan bergerak. Studi itu mengamati sekitar 77 ekor hiu paus.

Yang juga tak kalah memprihatinkan adalah kegiatan memberi makan satwa liar ini. Secara alamiah, hiu paus adalah hewan pengembara. Tindakan memberi makan membuat sebagian dari mereka tetap tinggal. Tidak jarang karena mencari makanan dari manusia, hiu paus mendekati kapal pemburu dan membahayakan diri mereka sendiri. Hal demikian pernah teramati di Filipina dan Indonesia.

Sebuah penelitian di Filipina mengungkapkan sekitar 150 kilogram hingga 400 kilogram kulit udang ditebar tiap pagi untuk menarik hiu paus muncul ke permukaan demi turis.

Atraksi ini membuat hiu paus lebih sering makan dalam posisi berdiri. Meski secara alami juga dilakukan, cara ini membuat energi yang dilepas oleh hiu paus menjadi lebih besar.

Dengan menjadikannya objek wisata, hiu paus juga mengalami peningkatan risiko tertumbuk perahu atau kapal, salah satu faktor yang diduga berkontribusi signifikan terhadap menurunnya populasi ikan ini. Tumbukan dengan kendaraan transportasi laut itu sering kali melukai hiu paus dan tak jarang menewaskannya.

Sebuah studi yang mengevaluasi ekowisata hiu paus di Australia dari tahun 1995 hingga tahun 2004 menunjukkan, ketereksposan satwa ini terhadap manusia dan kegiatannya, menurunkan 40 persen penampakan satwa ini. Para periset cenderung menyamakan penampakan dengan populasi, mengingat sulitnya menghitung secara pasti populasinya.

Safina Centre, organisasi nirlaba lingkungan yang berkantor pusat di kota New York memperkirakan populasi hiu paus secara global saat ini antara 119.000 dan 238.000 ekor. Jumlah ikan ini terus menyusut karena perburuan, polusi laut, dan interaksi dekat dengan manusia, kata organisasi itu.

Meskipun dianggap tindakan ilegal, perburuan hiu paus masih terjadi. Sekitar 500-600 hiu paus ditangkap oleh sebuah perusahaan terkenal China setiap tahunnya, kata Safina Centre tanpa merincinya.

Terlepas dari kontroversi wisata hiu paus, menurut Meizani dari Konservasi Indonesia, yang saat ini penting dilakukan Indonesia adalah mendata populasi hewan ini. Ia mengatakan, semakin banyak pemantauan dilakukan, semakin banyak informasi yang diperoleh tentang spesies ini, dan semakin terarah upaya konservasinya.

“Selama ini sighting ikan paus ini ada dari Sabang sampai Merauke. Maksudnya dari Aceh sampai Papua. Tapi yang punya long term data ini hanya beberapa tempat di Indonesia. Dengan data yang ada saat ini, kita belum bisa mengekstrapolasi jumlah hiu paus yang ada di Indonesia dan bagaimana pergerakannya,” pungkasnya. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Total Views: 1560

Pos terkait