“Semacam willingness to pay untuk environmental services, atau biasa kita sebut PES (payment for ecosystem services). Itu menjadi bagian dari sistem di mana wisatawan mau membayar sekian puluh ribu atau ratus ribu rupiah untuk konservasi hiu paus,” jelas Ranny.
Sukirman dan Zainuddin juga menentang pemikiran menutup ekowisata hiu paus. Mereka bersikeras mengatakan, kegiatan wisata yang satu ini sangat berwawasan lingkungan. Baik di Pantai Botubarani maupun di Teluk Saleh, kata mereka, para operatornya kerap memberlakukan SOP yang keras dan sama-sama membatasi jumlah pengunjung. SOP yang dimaksud Sukirman dan Zainuddin sebetulnya adalah aturan pelaksaan kode etik yang dimaksud Ranny.
“Ada kuota yang harus dibatasi ketika menjalankan wisata ini. Dalam satu rotasi per 20 menit pada sebuah area, hanya boleh ada satu kapal dan itupun maksimalnya mengangkut delapan orang,” imbuh Zainuddin.
Ekowisata yang satu ini juga tidak murah, sehingga tidak terjangkau oleh semua orang. Zainuddin mengungkapkan, “Rata-ratanya kita mematok harga Rp2,6 juta itu per orang. Tapi kalau kapalnya semakin banyak menampung orang, tarifnya bisa menurun. Kalau satu kapal ada lima orang, tarifnya bisa Rp700 ribu per orang.”
Menurut Sukirman mempertahankan ekowisata hiu paus di Pantai Botubarani juga sangat beralasan. Selain menggairahkan ekonomi setempat, lokasi beredarnya hiu paus itu sangat dekat dengan pantai, hanya sekitar 15 meter dari bibir pantai sehingga tidak membutuhkan kehadiran perahu atau kapal bermesin yang bisa membahayakan hiu paus.
Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) bahkan mencatat, Pantai Botubarani sebagai tempat lokasi wisata hius paus paling dekat dengan pantai di dunia.
Sukirman membandingkan wisata hiu paus Botubarani dengan sejenisnya di Ningaloo, Australia. Di negara tetangga itu, gerombolan hiu paus ditemukan jauh dari pantai. Para turis biasanya harus naik kapal pesiar atau kapal bermotor untuk bisa menyaksikan kehadiran mereka dari dekat.
Lokasi hewan laut itu umumnya juga baru diketahui setelah dilacak helikopter pemantau. Kehadiran kapal-kapal bermesin itu membahayakan populasi ikan yang geraknya tergolong lambat ini.





