Ekowisata Hiu Paus Semakin Menuai Kontroversi

Ekowisata Hiu Paus – Wisatawan bisa berada dalam jarak sangat dekat dengan hiu paus (Dokumentasi Hiu Paus Gorontalo-Fahry Amar)
Ekowisata Hiu Paus – Wisatawan bisa berada dalam jarak sangat dekat dengan hiu paus (Dokumentasi Hiu Paus Gorontalo-Fahry Amar)

Ekowisata hiu paus, kata Sukirman, juga mendongkrak perekonomian setempat. Berdasarkan perhitungan, nilai penjualan tiket masuk ke pantai itu mencapai lebih dari Rp320 juta sepanjang tahun 2022.

Ia mengatakan, jika dihitung dengan pemasukan dari sektor-sektor penunjangnya, termasuk hotel, restoran, dan pemandu wisata, angkanya bisa membengkak berkali-kali lipat.

Bacaan Lainnya

Paling tidak, kata Sukirman, ini tercermin dari kondisi kawasan Pantai Botubarani. Dulunya, rumah-rumah di sana pada umumnya adalah rumah semipermanen yang tidak layak huni dan terbuat dari kayu ala kadarnya. Kini, semua rumah di sana tergolong permanen, dan banyak di antaranya diubah menjadi hotel, cottage dan restoran.

Sukirman menjelaskan, kawasan Pantai Botubarani merupakan wilayah perairan yang tepat bagi hewan pengembara ini karena kekayaan nutrisinya. Tak heran, hiu paus terlihat sepanjang tahun di pantai itu.

Masa puncak keberadaan hewan itu biasanya pada Mei-hingga Juli, kecuali pada tahun 2023 yang berlangsung dari April hingga Juli. Pada masa puncak itu, dalam sehari bisa ada enam ekor yang menampakkan diri.

Meski demikian, Sukirman juga memahami kekhawatiran banyak pihak terhadap populasi ikan yang terancam punah itu. Tingkat reproduksi ikan raksasa yang terpanjang dan pernah tercatat adalah 18 meter, sangat rendah.

Hiu paus, kata Sukirman, mengalami pemijahan pertama kali pada usia 30 tahun. Bayi-bayi yang diproduksinya bisa ratusan – dengan panjang 60 hingga 90 sentimeter – namun memiliki tingkat bertahan hidup (survival rate) yang rendah. Artinya, hanya sedikit yang bisa bertahan hidup hingga usia dewasa.

Berdasarkan catatan tim monitoring Hiu Paus Gorontalo, penampakan hiu paus juga menurun dari tahun ke tahun, yang kemungkinan menyiratkan menurunnya populasi secara keseluruhan.

“Semakin ke sini semakin menurun. Pada tahun-tahun yang pernah saya dokumentasi, tahun 2020 ada 11 ekor, tahun 2022 ada 8 ekor, pada tahun ini hanya 6 ekor.”

Meski demikian Sukirman membantah, ekowisata merupakan ancaman besar hiu paus. Ia mengatakan, populasi hewan itu terancam punah lebih karena perburuan dan sering tertabrak kapal, mengingat geraknya yang lambat.

Sejumlah penelitian di dalam dan luar negeri menunjukkan, hiu paus cenderung bersikap waspada ketika didekati manusia atau perahu. Waspada sendiri, menurut banyak peneliti, dapat diartikan sebagai reaksi tubuh terhadap stres.

Total Views: 1556

Pos terkait