Meraih Simpati Generasi Millinial dan Generasi Z
Dalam kesempatan berbeda, praktisi politik, Priyo Budi Santoso mengatakan sangat penting untuk menjaring dukungan dari 46,8 juta (22,8 persen) pemilih generasi Z dan 66,8 juta (33,6 persen) pemilih milenial dalam Pemilu 2024. Tantangannya, menurut Priyo, generasi Z dan generasi milenial adalah kelompok usia yang berpikiran terbuka sehingga tidak mudah terpengaruh dengan indoktrinisasi dan ideologisasi jargon-jargon politik.
“Jadi kemudian kalau dibicarakan tentang sekarang orang-orang para pemimpin partai politik dan tokoh-tokoh nasional yang sekarang memimpin partai cenderung untuk melakukan de-ideologisasi, termasuk indoktrinasi yang hebat untuk membangun solidaritas terhadap partai. Ini sudah tentu bertabrakan dengan pola pikir, perspektif, pandangan, dan alam pikiran apa yang sebut dengan generasi Z tadi maupun generasi millenial sebelumnya,” kata Priyo dalam Webinar Pilpres 2024 di kanal YouTube ICMI TV, Jumat (20/10/2023).
Dalam webinar yang sama, Ketua Koordinasi Politik Majelis Pimpinan Pusat (MPP) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Profesor Lili Romli mengatakan program-program yang ditawarkan menjadi faktor penting bagi generasi Z dan millenial dalam memilih calon presiden dan wakil presiden.
Merujuk hasil survei yang dilakukan Centre Strategic and International Studies (CSIS) dan dirilis pada 26 September 2022, kata Lili, 63,8 persen generasi Z dan milenial mendukung sistem demokrasi dan menginginkan pemimpin yang jujur dan tidak korupsi (34,8 persen), serta merakyat dan sederhana (15,9 persen).
“Isu-isu strategis yang harus diperhatikan pemimpin adalah kesejahteraan masyarakat dan lapangan pekerjaan. Ini sebenarnya yang diinginkan generasi muda, generasi milenial dan generasi Z ini. Ini yang harus dipotret atau digaungkan jadikan program bagi capres dan cawapres,” kata Lili Romli.
Setidaknya ada lima isu strategis yang menjadi perhatian serius kelompok pemilih muda ke depan, yaitu tingginya harga sembako, terbatasnya lapangan pekerjaan, tingginya angka kemiskinan, pelayanan dan biaya kesehatan yang mahal, juga pelayanan dan kualitas pendidikan yang buruk. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





