Ketika Israel, Minggu (29/10) terus memperluas operasi militernya di Gaza, Amerika mengulangi seruannya untuk melindungi nyawa orang yang tidak bersalah. Secara terpisah, seorang pakar militer memperingatkan bahwa misi Tel Aviv untuk menghancurkan Hamas hampir mustahil dilakukan.
JALUR GAZA – Pasukan Pertahanan Israel pada Minggu (29/10/2023) menekankan bahwa kelompok militan Hamas, dan bukan orang-orang Gaza, yang menjadi sasaran operasi militer mereka yang kini telah diperluas.
Namun, seiring dengan semakin banyaknya laporan dan video yang menunjukkan kerusakan parah di daerah-daerah sipil, pendekatan Israel dan dukungan yang diberikan Amerika terus mendapat sorotan.
Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan di acara televise ABC This Week, menegaskan kembali posisi AS mengenai masalah ini.
“Apa yang kami berikan kepada Israel sesuai dengan hukum perang dan persyaratan yang harus diambil untuk melindungi nyawa orang yang tidak bersalah. Itu adalah persyaratan yang kami terapkan setiap kali kami mengirim senjata ke negara lain,” ujarnya.
Beberapa kerabat para sandera yang ditahan oleh Hamas pada serangan teror 7 Oktober terhadap Israel telah menyatakan kekhawatiran bahwa serangan darat tersebut bisa membahayakan mereka yang diculik. Namun Sullivan menambahkan bahwa ada beberapa upaya yang sedang dilakukan untuk membawa mereka pulang dengan selamat.
“Kiami siap mendukung jeda kemanusiaan sehingga para sandera bisa keluar dengan selamat. Dan kami akan terus mengupayakannya setiap hari,” imbuh Sullivan.
Menurut pensiunan Jenderal Angkatan Darat Robert Abrams, yang juga diwawancarai ABC, Perang untuk menghancurkan Hamas dianggap sebagai misi “hampir mustahil” yang bisa memakan waktu berbulan-bulan .






