“Pada tahun 2021, Pertamina berhasil memproduksi SAF jenis 2.0 di unit Cilacap dengan menggunakan teknologi co-processing dan terbuat dari minyak inti sawit olahan yang telah dimurnikan dan dhilangkan baunya dengan kapasitas produksi 1.350 kiloliter per hari,” kata Alfian Nasution, Direktur Pertamina.
Sementara itu, Harris Yahya, Direktur Panas Bumi di Kementerian ESDM mengatakan penggunaan biofuel akan menurunkan efek rumah kaca.
Industri penerbangan, yang merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar, sedang mencari cara untuk mengurangi jejak karbonnya dengan menggunakan bahan bakar alternatif.
Para ahli mengatakan industri ini akan membutuhkan 450 miliar liter SAF per tahun pada 2050, jika bahan bakar tersebut ingin dianggap berkontribusi sekitar 65 persen dalam upaya mitigasi mencapai target net-zero.
Namun beberapa negara telah menyampaikan kekhawatirannya mengenai potensi deforestasi dalam produksi minyak sawit dari perkebunan. Uni Eropa telah memberlakukan pembatasan impor terhadap komoditas tersebut.
Pada 2021, Indonesia melakukan uji terbang dengan bahan bakar yang sama pada pesawat buatan Dirgantara Indonesia. Pesawat itu terbang dari kota Bandung, Jawa Barat, menuju ibu kota Jakarta.
Indonesia telah memerintahkan pencampuran biofuel sebesar tiga persen pada bahan bakar jet selambatnya pada 2020, tetapi implementasinya tertunda. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






