Garuda Luncurkan Penerbangan Komersial Pertama Berbahan Bakar Bioavtur

ILUSTRASI - Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia di tarmac Terminal 3, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, 28 April 2017. (REUTERS/Darren Whiteside)
ILUSTRASI - Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia di tarmac Terminal 3, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, 28 April 2017. (REUTERS/Darren Whiteside)

JAKARTA – Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia, Jumat (27/10/2023) meluncurkan penerbangan komersial pertamanya pesawat berbahan bakar jet yang dicampur dengan minyak sawit atau bioavtur.

Penerbangan ini merupakan bagian dari upaya Indonesia, sebagai produsen sawit terbesar di dunia, dalam mendorong penggunaan bahan bakar nabati atau biofuel secara lebih luas untuk mengurangi impor bahan bakar.

Bacaan Lainnya

Garuda Indonesia mengoperasikan pesawat Boeing 737-800NG membawa lebih dari 100 penumpang dari Jakarta ke Solo yang berjarak sekitar 550 kilometer, dengann bahan bakar bioavtur, kata CEO Garuda Indonesia Irfan Setiaputra.

“Kami akan berdiskusi lebih lanjut dengan Pertamina, Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), dan pihak lain untuk memastikan bahan bakar ini layak secara komersial,” kata Irfan dalam upacara seraya menambahkan bahwa pesawat tersebut rencananya akan kembali ke Jakarta pada Jumat malam.

Garuda melakukan beberapa tes termasuk uji penerbangan bahan bakar baru tersebut awal bulan ini dan uji darat mesin pada Agustus.

Bahan bakar jet campuran minyak sawit ini diproduksi oleh Pertamina di kilang Cilacap, menggunakan teknologi HEFA (hydroprocessed esters and fatty acid) dan terbuat dari minyak inti sawit yang telah dimurnikan dan dihilangkan baunya.

Pertamina mengatakan bahan bakar berbahan dasar kelapa sawit mengeluarkan lebih sedikit gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan atmosfer dibandingkan dengan bahan bakar fosil, dan negara-negara produsen minyak kelapa sawit telah menyerukan agar minyak nabati itu dimasukkan dalam bahan baku produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF).

Total Views: 458

Pos terkait