Upaya untuk mencapai target pengurangan emisi tersebut, lanjutnya, harus diwujudkan ASEAN dengan memulai mengoptimalkan sumber-sumber daya lain untuk pengganti gas alam.
“Pada 2030 harus ada penurunan 64 persen penggunaan batubara dan 75 persen di 2050. Cara lain adalah penggunaan gas alam. Setengah dari total konsumsi gas alam di Asia Tenggara adalah untuk pembangkit listrik, 30-40 persen untuk industri, dan sisanya untuk penggunaan lain. Namun ASEAN terancam impor gas pada 2035 dan ini bisa mengancam ketahanan energi Asia Tenggara,” ujarnya.
Direktur Kerja Sama Ekonomi ASEAN Kementerian Luar Negeri, Berlianto Pandapotan Hasudungan, menjelaskan perubahan iklim menjadi tantangan dalam pertumbuhan dan pemulihan ekonomi di Asia Tenggara pasca pandemi COVID-19.
Berlianto mengatakan pemerintah telah menjalankan sejumlah upaya dalam transisi energi, salah satunya dengan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik.
“Karena energi merupakan pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi. Ketergantungan terhadap minyak saat ini perlu diatasi dengan transisi energi. Untuk itu, Indonesia sudah mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik di ASEAN sebagai salah satu prioritas penting keketuaannya,” ujarnya.






