Perlu Evaluasi Keamanan
Direktur Auriga Nusantara, Timer Manurung mengusulkan adanya perbaikan secara menyeluruh terhadap perlindungan badak jawa dan TNUK.
“Jadi, sistem yang ada selama ini mesti diuji tuntas. Monitoring atau rhino protection program itu harus dicek secara mendasar, dievaluasi, termasuk sistem pengamanan yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon,” ujarnya.
KLHK juga didorong untuk berdialog dan berkonsultasi dengan pakar-pakar pengamanan, baik kawasan maupun spesies. Selain itu, seluruh potensi yang ada termasuk modal sosial maupun teknologi harus dimanfaatkan secara maksimal.
Modal sosial yang disebut Timer, misalnya adalah kepedulian masyarakat sekitar TNUK.
“Sebelum 2018, secara meyakinkan bisa kita mengatakan bahwa tidak ada perburuan badak di Ujung Kulon. Ini sebenarnya menunjukkan, bahwa masyarakat sudah menyadari betul koeksistensi dengan badak,” ujarnya.
Karena itu, jika selama empat tahun terakhir terjadi perburuan liar, maka harus ditelaah bagaimana modal sosial yang sudah lama ada, dapat dimanfaatkan untuk menekannya.
Selain itu, penggunaan teknologi kamera pemantau juga bisa dimaksimalkan. Timer menyebut, masyarakat setempat sebenarnya sangat tahu titik-titik mana yang biasa dipergunakan untuk masuk secara ilegal ke TNUK. Kamera pemantau yang ada, juga pernah merekam masuknya pemburu bersenjata. Seharusnya, semua ini menjadi penguat pentingnya menggunakan teknologi untuk melindungi badak jawa di TNUK.
“Apalagi pada situasi sekarang, sesudah punahnya badak sumatra di Lampung. Kita harus curiga, pemburu-pemburu profesional dari Lampung sekarang mengarah ke Ujung Kulon,” tambah Timer.






