Pemanfaatan Teknologi Reproduksi
Pakar badak dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Muhammad Agil menyebut, teknologi reproduksi sudah sangat maju saat ini, sehingga menjaga populasi badak bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi tersebut. Dia memberi contoh, upaya yang sama telah dilakukan terhadap badak putih afrika.
“Badak putih afrika yang terkenal karena tinggal dua ekor di dunia, di Kenya. Mereka dari sejak tahun 2019 sampai dengan 2022 itu sudah menghasilkan 24 embrio, padahal badaknya yang jantan sudah enggak ada, sudah mati,” kata Agil ketika diundang ke Komisi IV DPR, Selasa (11/4).
Agil menjadi salah satu pakar yang diundang DPR, dalam kaitan penyusunan Rancangan Undang-undang tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE).
Dalam paparannya terkait konservasi badak, Agil mengatakan langkah yang bisa dilakukan dalam menjaga populasi badak jawa adalah dengan mengoleksi sperma, sebagaimana dalam kasus badak putih afrika. Sementara satu badak putih afrika yang tersisa, yang masih cukup muda usianya, bisa dikoleksi sel telurnya, untuk kemudian digabungkan dalam proses bayi tabung.
Dosen di Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB, itu menjelaskan, dalam kasus di Indonesia, badak sumatra kian terancam populasinya. Jumlah populasi badak tersebut hanya tersisa delapan ekor di Way Kambas, Lampung. Selain itu, badak sumatra juga ditemukan di Taman Nasional Leuser, Aceh.
Namun, delapan ekor badak di Way Kambas yang tersisa, statusnya bersaudara dekat. Karena itu, diperlukan sperma dari luar untuk mengembangbiakkannya. Sayang, badak dari Leuser, Aceh tidak bisa dibawa ke Lampung untuk proses perkawinan dan mengamankan populasi.
“Di Aceh, ada qanun (hukum) yang tidak membolehkan satwa keluar dari Aceh. Padahal di Way Kambas itu membutuhkan. Mungkin ini salah satu bagian yang perlu didiskusikan dengan pemerintah, bagaimana mengantisipasi hal tersebut,” ujarnya.
Selain itu, Agil juga memaparkan bahwa Amerika Serikat pernah menerima hibah badak dari Indonesia sebanyak delapan ekor, dan telah berkembang menjadi 10 ekor. Badan itu berasal dari Riau, Bengkulu dan Jambi.
“Walaupun badak sudah mati, tapi Amerika sudah maju. Mereka menyimpan sel-sel fibroblas dari badak yang sudah mati,” ujarnya.
Ketika berkunjung ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu, Agil telah membuka pembicaraan agar Indonesia dimungkinkan memanfaatkan sel-sel fibroblas tersebut untuk menambah populasi yang kian terancam.
“Kita punya badak-badak betina di Way Kambas, itu bisa kita panen sel telurnya, dan kita bisa masukkan stem cell dari material biologi yang ada di Amerika. Maka bisa jadi individu baru dan itu 100 persen notabene sama dengan aslinya,” tambah Agil.
Agil mendorong rancangan undang-undang yang baru disusun saat ini memastikan adanya penggunaan teknologi dalam mendukung konservasi. [voa]
Jurnalis: Nurhadi Sucahyo
Jaringan: VOA





