Selain itu, mantan gubernur DKI Jakarta ini juga menilai membaiknya situasi penanganan pandemi di tanah air, juga berkat cakupan vaksinasi COVID-19 yang saat ini kurang lebih telah disuntikkan 448 juta dosis kepada masyarakat.
“Itu semuanya bisa kita lakukan dan kita melihat TNI dan Polri betul-betul bekerja melampaui tugas intinya. Ke kampung-kampung ngajakin_rakyat untuk mau divaksin, bukan pekerjaan yang mudah,” ujarnya.
Jokowi juga menuturkan langkah lain yang diambil oleh pemerintah dalam penanganan pandemi ini, yaitu manajemen “gas dan rem.” Kebijakan itu dilakukan dalam rangka menyeimbangkan kesehatan dan perekonomian nasional. Presiden menyebut langkah tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.
“Begitu hitungan salah sedikit, ekonomi akan jatuh. Tetapi begitu gasnya terlalu kencang juga pandeminya bisa naik. Itulah yang kita lakukan menjaga keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi yang semuanya menekan manajemen negara, tidak mudah,” tuturnya.
Jokowi mengatakan hal terpenting dalam penanganan pandemi ini adalah besarnya partisipasi masyarakat. Menurutnya peran besar masyarakat inilah yang turut mendukung keberhasilan pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19.
“Partisipasi inilah yang harus kita apresiasi, kita hargai, karena semua memberikan dukungan dunia usaha, masyarakat di bawah, semuanya bergerak semuanya,” tandasnya.
Sementara itu, pakar epidemiologi dari Universitas Airlangga Windhu Purnomo mengungkapkan sejauh ini strategi pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19 memang sudah berdasarkan berbagai data epidemiologis yang ada.
Ia menjelaskan, penanganan pandemi berdasarkan data epidemiologis tersebut saat ini sudah berubah mulai dari adanya penerapan berbagai pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat seperti PSBB dan PPKM menjadi untuk menekan jumlah kasus dan kematian melalui program vaksinasi.
“Dengan tujuan mencegah gejala berat (yang berakibat ke hospitalisasi dan kematian) bila ada masyarakat yang terinfeksi. Jadi itu lah di masa transisi yang harus terus dilakukan, yaitu mengejar cakupan vaksinasi setinggi mungkin, terutama dosis kedua dan booster pertama (dosis ke-3) dengan prioritas tetap mereka yang berisiko tinggi mengalami gejala berat ketika terinfeksi yaitu kelompok lansia,” ungkap Windhu.





