Pasar tempe di negeri Paman Sam, Amerika Serika makin meluas dan populer seiring makin berkembangnya tren vegetarian dan vegan. Tren ini membuka peluang lebar untuk makanan dari kedelai yang memiliki cita rasa, warna, aroma, dan tekstur seperti yang biasa ditemukan di Indonesia.
Sebab kerinduan akan tempe otentik Indonesia dan prospek popularitas yang semakin berkembang itulah, beberapa anggota diaspora Indonesia menekuni usaha tempe di Amerika.
Pembuatan tempe di belahan bumi utara seperti di Amerika sangat menantang karena dihadapkan dengan empat musim dengan cuaca ekstrem, terutama selama musim dingin ketika kelembaban tidak menentu dan suhu udara sering mencapai titik di bawah nol derajat Celcius.
Namun, tempe menjanjikan, terutama di tempat-tempat konsentrasi diaspora Indonesia dan seiring dengan tren semakin banyaknya warga Amerika yang berpaling dari daging ke sumber protein berbasis nabati atau bahkan menjadi vegan dan vegetarian.
Di kota Somersworth, New Hampshire di kawasan Timur Laut Amerika, dua pasang diaspora Indonesia menekuni bisnis ini sebagai aktivitas sampingan selain tetap menjalani profesi utama masing-masing. Mereka adalah Daniel Kurnianto bersama istrinya Meylia Tio, dan Octavianus Asoka bersama istrinya Aristiya Dwiyanti.
Daniel dan Meylia adalah pelopor bisnis ini, yang konon dimulai secara kebetulan karena kerinduan mereka akan tempe dengan cita rasa otentik Indonesia. Daniel yang adalah insinyur desain otomasi laboratorium, dan Meylia yang bergelar Master bidang pendidikan tinggi, terus mencoba resep dan melakukan berbagai percobaan.

Keuletan itu tidak sia-sia karena kemudian ditermukan formula yang pas untuk tempe dengan warna, rasa, aroma dan tekstur seperti yang biasa ditemukan di pasar-pasar di Indonesia. Alhasil, diproduksilah tempe dengan merek BOSTempeh, singkatan dari “Boston tempeh” (“tempe Boston”) karena bisnis ini berawal di kota Boston, Massachusetts.
Octavianus yang berlatar belakang pendidikan bidang manufaktur makanan bertanggung jawab pada proses pembuatan tempe, sementara Aristiya yang bergelar Sarjana desain grafis dan berprofesi sebagai fotografer bertanggung jawab pada desain produk dan pengemasannya.
“Awalnya kenapa bikin itu karena partner saya yang mulai, namanya Daniel dan Meylia. Mereka cari tempe di US cuma yang rasanya lokal itu tidak ada. Jadi mereka kalau beli di supermarket adanya yang rasanya rada pahit. Jadi mereka coba belajar bikin sendiri dan membikin alat-alatnya sendiri, terus resepnya sendiri, dan belajar dari Indonesia juga. Akhirnya ya tambah besar saja, terus mulai mencoba mass produce. Jadi tahun 2020 kami bantu mereka buat mass produce (produksi dalam jumlah besar).”





