Tempe Indonesia Makin Populer di Amerika

Aristiya Dwiyanti menimpali bahwa binis tempe di Amerika cukup menjanjikan. “Kalau kita lihat di market sekarang, tren untuk vegan atau vegetarian itu semakin tahun trennya memang semakin naik. Jadi, ada data juga yang memperlihatkan kalau konsumsi tahu tempe itu setiap tahun memang semakin naik. Nah, karena itu, kita lihat ini kesempatan yang bagus untuk tempe Indonesia bisa masuk pasar Amerika. Prospek jangka panjangnya yang bagus,” jelasnya.

Di kawasan Barat Tengah Amerika, di kota kecil Greensburg di Indiana juga berdiri sebuah pabrik tempe yang diprakarsai oleh seorang diaspora Indonesia Mayasari Effendi bersama suaminya Richard Mays. Maya, yang datang ke Amerika pada tahun 2004 untuk menempuh studi ilmu komputer di Universitas Purdue di West Lafayette, Indiana tetapi kemudian pindah ke jurusan manajemen di kampus yang sama, memulai bisnis satu-satunya restoran Indonesia di kota kecil Greensburg, Indiana pada tahun 2012 dengan nama Mayasari Indonesian Grill. Kecintaan Maya pada hobi masak makanan asli Indonesia mebuatnya mendambakan cita rasa makanan dari tanah air, terutama tempe yang otentik.

Bacaan Lainnya

Dari kerinduan akan tempe itu pula Maya kemudian membuatnya sendiri, bahkan jauh sebelum membuka restorannya. Maya juga memasukkan tempe dalam daftar menu di restorannya. Memang, tempe tidak lalu serta-merta diterima oleh masyarakat setempat, tetapi upaya promosi dan edukasi yang dilakukannya terus menerus akhirnya berbuah.

Kini, banyak orang di Greensburg yang sebelumnya asing dengan tempe dan selama hidup terbiasa dengan steak akhirnya bersedia mencoba hidangan tempe yang ditawarkan dalam berbagai sajian. Maya mengatakan, “sebagian warga bahkan bahkan jatuh cinta dengan sumber protein nabati luar biasa yang penuh nutrisi itu.”

Maya mengatakan sangat beruntung karena tinggal di daerah pertanian kedelai di Indiana. Dia bisa mendapatkan kedelai organik berkualitas tinggi dari ladang keluarga di belakang rumahnya sendiri. Dengan kemudahan mendapatkan bahan itulah, dibarengi dengan penerimaan warga sekitar, Maya mulai menekuni pembuatan tempe. Toko-toko Asia di Indiana juga tertarik untuk membeli dan menjual tempe produksi Maya yang diberi label Mayasari Tempeh.

“Kami mulai buka restoran tahun 2012. Nah, dari situ juga sudah mulai ada di tempe, cuma orang-orang masih pada takut di daerah karena kan daerah sini itu jauh dari mana-mana. Orang sini kebanyakan makannya steak dan potatoes (kentang), tapi tahu-tahu ada restoran Indonesia, ada tempenya. Tapi mulai 7 tahun yang lalu, orang-orang sudah mulai kenal tempe, dan makin populer itu setelah 5 tahun belakangan saja. Tadinya kami cuma bikin untuk di restoran saja, tapi lama-lama kok jadi makin banyak peminat. Akhirnya suami saya mutusin buka ruagan untuk tempe, tapi tidak cukup juga. Akhirnya kami buka pabrik,” tuturnya.

Senada dengan pendapat Octavianus dan Aristiya, Maya juga melihat pasar tempe yang prospektif. Dia mengaku permintaan Tempe Mayasari terus meningkat.

Total Views: 773

Pos terkait