Tempe Indonesia Makin Populer di Amerika

“Sekarang satu minggu kini dibutuhkan antara 20 sampai 30 bushel (gantang) untuk menghasilkan sekitar 700 sampai 1200 unit tempe dengan berat sekitar 350 gram per unit,” ujar Maya.

Maya menambahkan bahwa pasar tempe di Amerika cukup besar, sama seperti di Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Pasar tempe di Amerika sama yang di Indonesia, pasar Amerika juga besar. Bedanya itu wilayah-wilayahnya saja, wilayah mana yang sudah kenal tempe, dan kebetulan saya di Midwest pembuat tempe itu kan tidak banyak. Sekarang di Indiana baru saya yang saya tahu. Jadi pasar saya lebih besar dibanding dengan pengrajin-pengrajin tempe yang ada di East Cost atau di West Cost di mana banyak orang Indonesia,” imbuhnya.

Maya tidak merasa khawatir dengan persaingan antar pengrajin tempe di Amerika.

“Untuk ke depannya, tempe ini kita harus punya ciri khas sendiri. Banyak orang di Amerika sini mulai menyadari yang disebut healthy lifestyle. Mereka mulai melihat protein dari plant-based, itu mulai digalakkan. Jadi menurut saya tempe ini pasarnya bagus, hanya nanti bentuknya itu bukan seperti yang kita makan di Indonesia. Nanti bentuknya berbeda. Saya punya tempe burger di restoran saya, tapi itu sebenarnya tempe bacem.”

Selain peluang yang baik, Octavianus mengatakan ada pula tantangan dalam usaha tempe di Amerika, terutama berhubungan dengan iklim dengan suhu dingin dan panas yang ekstrem. Selain itu, ketidaktahuan warga Amerika merupakan tantangan tersendiri, sehingga diperlukan upaya untuk memperkenalkan makanan sehat dari Indonesia ini.

“Dari marketnya (kami) juga berusaha memperkenalkan tempenya soalnya orang di sini familiar-nya sama tofu (tahu), Tempe itu kan agak beda, teksturnya dan rasanya juga. Apalagi orang juga ada yang sensitive dengan soy. So, it’s gonna take time for US market (akan makan waktu untuk pasar Amerika),” tuturnya.

Aristiya menambahkan bahwa upaya pengenalan lebih jauh ini sangat penting “supaya bisa lebih familiar dengan rasa tempe, supaya lebih terbiasa.”

Sementara itu, mengenai tantangan yang dihadapi sebagai perajin tempe, Maya mengaku “sesama diaspora Indonesia sering complain karena penyesuaian yang dibuatnya agar memenuhi selera warga Amerika.”

“Tantangannya ya orang Indonesia sendiri karena orang Indonesia kan sudah tahu apa itu tempe. Sekiranya kita ubah, mereka mulai complain. Kata mereka rasanya tidak seperti ini (berbeda). Kalau menurut saya, kita sebagai orang Indonesia, ayolah kita sama-sama mendukung. Siapa yang membuat tempe kita dukung. Kita bikin komunitas. (Jadi), challenge-nya ya orang Indonesia sendiri. Itu satu dan yang kedua, challenge-nya ini kita harus mengedukasi, terutama orang Midwest, karena orang Midwest kan sukanya daging, steak ada di mana-mana. Sekarang persaingannya inovasi dari produk tempe itu sendiri. Tapi jangan khawatir. Orang Indonesia kan ditaruh di planet mana saja (bisa) hidup,” tukasnya.

Total Views: 774

Pos terkait