TEGAL, Jurnalterkini.id – Ribuan warga tumpah ruah memadati Alun-Alun Hanggawana, Slawi hingga malam penutupan. Festival Moci 2026 dan Moci Bareng resmi ditutup Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid, Minggu (26/07/2026).
Selama tiga hari, alun-alun tidak hanya jadi panggung hiburan. Warga mengaku puas karena bisa menikmati teh, kuliner, seni, sekaligus belanja produk UMKM dalam satu tempat.
Mewakili Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman, Wabup Ahmad Kholid mengapresiasi antusiasme masyarakat.
“Alun-Alun Hanggawana tiga hari ini berubah menjadi ruang pertemuan budaya, kreativitas, dan ekonomi. Kita lihat sendiri warga datang bersama keluarga, menikmati pameran teh, pertunjukan seni, lomba, hingga moci bareng. Ini bukti budaya lokal masih punya tempat istimewa kalau dikemas kreatif,” ujar Ahmad Kholid.
Ia menyebut secangkir teh saat moci bukan sekadar minuman.
“Tradisi moci mengajarkan kebersamaan. Inilah jati diri Kabupaten Tegal yang harus terus kita jaga dan kenalkan ke luar daerah, sejalan dengan semangat Slawi Kota Teh Wangi Dunia,” katanya.
Kepuasan pengunjung menjadi sorotan utama tahun ini. Stand UMKM penuh, panggung seni tidak pernah sepi, dan area moci bareng dipadati ribuan peserta.
Yety Yulianti, salah satu pengunjung asal Kaligayam, Talang, mengaku datang bersama keluarga sejak sore.
“Saya puas banget ikut Festival Moci tahun ini. Suasananya ramai tapi tertib, hiburannya banyak, dan jajanan UMKM-nya enak-enak. Yang paling berkesan pas moci bareng, duduk lesehan bareng ribuan orang sambil ngobrol. Rasanya anget, guyub, dan berasa banget budaya Tegal-nya. Semoga tahun depan lebih meriah lagi,” kata Yety.
Hal senada disampaikan Priyadi dari Margadana, peserta Moci Bareng. “Tradisi moci ini harus terus dilestarikan. Saya berharap Festival Moci digelar rutin tiap tahun dengan persiapan yang makin baik,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari pelaku usaha. Pimpinan Kebun PT Sinar Sosro Gunung Slamet, Arief Maulana Yamin menilai festival ini bukan hanya promosi, tapi juga edukasi budaya minum teh.
“Kami hadir bukan cuma jualan. Ini kewajiban moral memperkenalkan cara minum teh yang baik dan benar ke masyarakat. Animo warga luar biasa,” ujar Arief.
Ia berharap ke depan fasilitas ditambah, seperti air bersih, toilet umum, dan ruang lomba yang lebih luas agar pengunjung makin nyaman.
Closing Ceremony ditutup dengan Moci Bareng massal yang diikuti ribuan peserta. Gelas teh diangkat bersamaan menjadi simbol kebersamaan dan komitmen menjaga tradisi moci sebagai identitas Kabupaten Tegal.
Acara ini dihadiri unsur Forkopimda, Sekda, Dewan Kebudayaan dan Kesenian, OPD, pelaku UMKM, komunitas seni, dan sponsor. (Pry)





